Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan terbaik, paling istimewa disemua ciptaan yang ada. Allah dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS: At-Tin: 4).
Tak bisa dibantah manusia lah makhluk_Nya yang terbaik. Makhluk lain apa pun derajat baiknya di bawah manusia. Manusia itu adalah kita, kita entitas makhluk berakal dan berhati.
Malaikat, Jin, Syetan, sekali pun bukan tercipta dari tanah, derajat baiknya berada di bawah manusia. Betapa beruntungnya menjadi manusia bila dilihat dari derajatnya.
Malaikat pun bertugas dan diperintah Tuhan “melayani” manusia. Bukankah para nabi pun diguide, dilayani Malaikat ? Bukankah Allah perintahkan Malaikat sujud pada manusia? Hal ini terdapat dalam (Al Baqarah ayat 34).
Allah SWT berfirman: “Sujudlah kalian kepada Adam (manusia),” maka sujudlah para Malaikat, kecuali Iblis. Esensi Al Baqarah 34 ini menjelaskan manusia sebagai makhluk dengan kemuliaan yang sangat tinggi (ahsani taqwim).
Maanusia adalah satu-satunya makhluk yang diberi akal pikiran, perasaan dan kemampuan berkebudayaan. Makhluk lain tidak. Kemampuan akal pikiran, perasaan dan berkebudayaan, memungkinkan entitas manusia menjadi yang terbaik.
Walau tentu disisi lain memungkinkan pula manusia jadi lebih hina dari binatang dan Syetan. Ketika akal pikiran, perasaan dan kebudayaan manusia tidak seirama dengan kehendak/ridha Ilahi maka manusia menemukan kerendahannya.
Ahsani takwimnya manusia karena akhlaknya. Para nabi diutus untuk kebaikan akhlak manusia. Semua agama yang diturunkan untuk kebaikan akhlak manusia. Kemuliaan manusia ada diakhlaknya.
Akhlak yang dilandasi iman dan taqwa. Iman kepada Tuhan dan taqwa dalam kebaikan kepada sesama manusia. Tugas utama manusia adalah “menjalankan kebaikan” dengan landasan menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya.
Kemuliaan manusia dan tugas semua umat manusia, apa pun agamanya, apa pun ras dan golongannya adalah memberi manfa’at pada sesama, pada kehidupan alam jagat raya. Terutama pada sesama manusia.
Tugas utama manusia sejak Adam AS diciptakan dan sampai kiamat adalah berakhlak baik. Berakhlak baik itu identik dengan memberi manfaat pada sesama. Memberi manfaat pada sesama adalah inti hidup, maka kitab suci, nabi-nabi diturunkan untuk berakhlak baik pada sesama.
Termasuk hakikat semua umat beragama melakukan ritual di semua tempat ibadat, bukan untuk Tuhan. Melainkan untuk kemanusiaan, agar manusia terhindar dari keji dan munkar. Tuhan bukan makhluk, Ia tidak butuh apa pun.
Misal dalam agama Islam ada puasa, haji, umrah kesemua esensinya adalah untuk kebaikan manusia (dirinya dan orang lain). Puasa, umrah, haji bukan untuk Tuhan, karena Ia tak butuh.
Puasa, umrah, haji dan giat ritual lainnya adalah mencari dampak positif pasca_nya untuk kebaikan sesama manusia. Tentu saja semua akhlak baik pada manusia itu atas niat mencari ridha Tuhan. Tuhan yang bukan makhluk.
Bila perbuatan baik kita dilakukan atas dasar ingin mendapatkan makhluk, selain Tuhan, dengan segala daya tariknya, walau pun manusiawi tetapi jauh dari hal paling istimewa yakni ridha Tuhan.
Hidup manusia terbaik cukuplah menjadi manusia paling bermanfaat atas dasar ridha Tuhan. Berlomba-lombalah menjadi manusia paling bermanfaat, bukan berlomba mencapai “imajinasi” kelak yang makhluk.
Menarik ucapan Habib Jafar, Ia mengatakan Allah maha adil. Sekecil apa pun kebaikan kita (manfaat kita pada sesama) akan Tuhan beri imbalan. Kebaikan tidak melihat agama apa.
Kebaikan adalah kebaikan. Akhlak baik adalah baik. Faktanya publik manusia dan bahkan alam jagat raya tidak melihat kita agama apa, melainkan melihat akhlak kita. Faktanya semua nabi diutus untuk memperbaiki akhlak.











