Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Entitas Dewan Pembina PGRI)
Setiap organisasi tentu penuh dinamika dan prestasi tersendiri. Termasuk PGRI dari ranting sampai PB PGRI banyak kisah yang menjadi kenangan perjuangan. Organisasi yang hidup adalah organisasi yang dinamika dan dialektika organisasinya bertumbuh.
Termasuk kepemimpinan dan kaderisasi dalam tubuh internal PGRI harus terus bertumbuh. Terutama PB PGRI, nampaknya memasuki tahun 2024 harus ada spirit perubahan, pembaharuan dan penyegaran. Mengapa ? Agar organisasi lebih bergairah.
Status quo, dominasi kelompok atau dominasi seseorang harus sudah dikurangi dan dihindari dalam tubuh organisasi PB PGRI. Saya percaya entitas para Ketua PGRI Provinsi dan Kabupaten Kota, masih banyak yang potensial maju sebagai kader di tubuh PB PGRI.
Bapak Basyuni, Prof. Surya, Dr. Sulistiyo adalah diantara contoh pemimpin yang lahir dari daerah, pengurus daerah. Mengapa tidak di tahun 2024 para Ketua PGRI Provinsi berembuk, bersepakat, memilih yang terbaik diantara mereka.
Ketua Umum PB PGRI yang saat ini sudah cukup lama memimpin. Sejumlah dinamikanya sudah cukup dilalui. Nampaknya PB PGRI saat ini memerlukan pemimpin baru, amir baru yang bisa lebih memberi gairah dan dinamika baru.
Dampak dari pempimpin baru biasanya ada kebaruan semangat, pembaharuan dan kekompakan baru. Biarlah kisah yang lama, yang identik dengan sudah dua periode, menjadi pelajaran atas kelebihan dan kekurangannya. PB PGRI harus terus melaju lebih baik.
Pastikan mulai tahun 2024, syarat Ketua Umum PB PGRI wajib pernah menjadi pengurus daerah. Mengapa ? Agar kebatinan dan rasa organisasi PGRI dan rasa gurunya tersambung. Agar setiap pertemuan organisasi lebih kolektif kolegial, penuh dialektika dan persaudaraan sesama guru.
Organisasi profesi guru kurang rasa guru, resonansi pada anggota kurang membumi. Bapak Basyuni, Prof. Surya, Dr. Sulistiyo, mengapa melegenda dan selalu dalam kenangan anggota PGRI ? Karena ada tiga yang khas dari ketiganya.
Apa itu ? Pertama mereka pernah menjadi guru di sekolahan. Kedua mereka pernah menjadi pengurus daerah. Ketiga mereka adalah penganut agama yang taat dan pemimpin pria yang kolaboratif dengan pemerintah.
Menuju tahun 2024, menuju Kongres PGRI, segera para Ketua PGRI Provinsi dan Kabupaten memikirkan calon Ketua Umum PB PGRI yang baru. Demi masa depan guru, masa depan PGRI dan martabat organisasi di hadapan pemerintah dan berbagai pihak.
PGRI adalah organisasi guru, hindari hadirnya sosok yang otoriter dan bermental belah bambu sesama guru anggota. Cari tokoh yang menyatukan, kebapaan dan memahami bahwa PB PGRI hidup dari iuran para guru anggota seluruh Indonesia.
Kegiatan organisasi, jalan-jalan ke luar negeri, fasilitas kendaraan dan lainnya, kesemuanya terkait iuran dari anggota PGRI dari seluruh Indonseia. Tanpa iuran anggota yang jumlahnya ratusan juta per bulan, organisasi akan mati.
PGRI perubahan perlu dihadirkan. Ungkapan “Ekor mengikuti kepala” identik dengan apa yang terjadi di PB PGRI akan berimbas pada PGRI ke bawahnya. Majelis PGRI Provinsi, punya tanggung jawab moral memberi perubahan di momentum Kongres 2024.











