OPINI/Artikel

Sampah Selalu Menjadi Masalah, Lalu Siapa Yang Bersalah?

adminsigiku.com
×

Sampah Selalu Menjadi Masalah, Lalu Siapa Yang Bersalah?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Beng Tintin (Ibu Rumah Tangga)

Sampah Selalu menjadi permasalahan yang dialami oleh hampir sebagian besar negeri di dunia ini. Sifat sampah yang sulit diurai pun menjadi tantangan tersendiri bagi suatu negeri untuk menanggulanginya.

Seperti halnya di Indonesia, sampah pun menjadi persoalan yang sulit di tuntaskan. Belum lagi masalah banjir, kemacetan, hingga persoalan- persoalan lainnya.

Persoalan sampah pun terjadi di berbagai kota/wilayah di Indonesia, seperti halnya di Kabupaten Bandung. Timbunan sampah di Kabupaten Bandung ini disebut mencapai 1200-1500 ton perhari. Pemerintah Kabupaten Bandung pun mengakui bahwa timbunan sampah tersebut merupakan masalah yang serius di Kabupaten Bandung.

Menurut Bupati Bandung Dadang Supriatna, sampah adalah masalah bersama, ia beralasan penanganan sampah bukan saja tugas pemerintah, tetapi juga tugas seluruh masyarakat, dengan cara membuang sampah ditempat yang telah disediakan, di tng sampah atau Tps. ” Semua orang adalah sumber sampah, namun semua orang juga adalah sumber solusi” ujarnya. Sumber: Liputan 6.com Bandung.

Di negeri ini sendiri sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang hingga kini belum mampu diselesaikan oleh Pemerintah. Bagaimana tidak, jumlah sampah di negeri ini semakin hari semakin bertambah.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2021 saja, total sampah nasional sudah mencapai 68,5 juta ton. Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah Sampah dan Bahan Beracun Bebahaya (PLSB3) KLHK, Rossa Vivien Ratnawati menyatakan sumbangan sampah terbesar berasal dari sampah plastik, yakni sebanyak 16,6 juta ton. Rossa pun menjelaskan peningkatan sumbangsihnya sampah plastik dipicu dari adanya gaya hidup ingin praktis, sehingga pemakaian plastik sekali pakai menjadi meningkat (CNN Indonesia.com, 26/02/2022).

Sayang upaya saat ini yang dilakukan Pemerintah untuk menanggulangi masalah sampah hanya bersifat parsial, belum menyentuh pada akar permasalahan. Sehingga besar kemungkinan upaya inipun tidak akan mampu menyelesaikan persoalan sampah di negeri ini.

Hal ini dapat dilihat dari sudah banyaknya himbauan dan ajakan kepada masyarakat supaya tidak membuang sampah sembarangan, bahkan berbagai kampanye untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik begitu masif di gaungkan, namun hingga kini belum membuahkan hasil yang nyata.

Sungguh sangat ironis padahal jika penanganan sampah dilakukan dengan cara tidak baik, akan berdampak negatif pada lingkungan. Seperti rusaknya lingkungan hidup, pencemaran terhadap air, banjir, belum lagi terganggunya kesehatan akibat polusi sampah, terutama masyarakat yang tinggal disekitar pembuangan sampah.

Perlu kita sadari bersama, bahwa permasalahan sampah yang saat ini mendera hampir di semua negeri, tidak terlepas dari akibat diterapkannya sistem Kapitalisme. Kapitalisme dengan asasnya yang memisahkan agama dari kehidupan (sekuler) mengukur segala sesuatunya berdasarkan materi, yakni akan melakukan sesuatu yang bisa mendatangkan materi atau manfaat. Dan akan meninggalkan sesuatu apabila sudah tidak bisa mendatangkan materi atau manfaat.

Hal inilah yang menjadikan masyarakat memiliki sifat yang individualis, yakni hanya memikirkan diri sendiri/ kelompoknya. Alhasil masyarakat kehilangan kesadaran dan rasa empati untuk saling tolong menolong (taawun), salah satunya dalam mengelola sampah sebagai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Kapitalisme pun melahirkan budaya yang Konsumtif, yang membuat standar kebahagiaan berdasarkan banyaknya materi dan barang yang digunakan. Hal ini menjadikan masyarakat seolah tidak merasa puas dan selalu terdorong untuk selalu membeli barang-barang baru. Inilah yang mengakibatkan banyaknya timbunan sampah di negeri ini.

Hal inipun semakin di perburuk dengan sikap Pemerintah yang seolah tidak serius dalam menangani masalah sampah di negeri ini. Padahal sebagai pemegang kebijakan, negara memiliki kapasitas dan wewenang untuk menyelesaikan permasalah sampah ini.

Berbeda dengan Islam, Islam sebagai agama yang sempurna mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah sampah. Kesempurnaan inilah yang membuat Islam memiliki segala solusi yang bisa menyelesaikan masalah manusia dan lingkungannya. Islam memandang bahwa semua pihak, baik itu individu, masyarakat, maupun negara memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama pencemaran sampah.

Islam mengajarkan kepada pemeluknya bagaimana harus menjaga, mengelola dan mengolah dengan baik, lingkungan sekitarnya dan hasilnya. Islam pun sangat mencintai kebersihan, bahkan Rasulullah Saw, menyatakan bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian dari keimanan.

Rasulullah Saw bersabda:” Kebersihan itu adalah setengah dari iman” (HR Muslim).

Islam juga melarang manusia untuk membuat kerusakan dibumi atau menjadi sebab kerusakannya. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi sesudah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada -Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik (TQS al-A’raf :56).

Maka dari itu masalah sampah bisa diatasi dengan adanya kesadaran dan tanggung jawab yang harus dimiliki oleh setiap individu, masyarakat, dan negara.

Hal itu tidak akan bisa dicapai selama sistem yang diterapkan bukan berasal dari islam. Sebab Islam bukan hanya fokus pada akibat yang nampak dari problematika sampah, tetapi juga penyebab yang melatarbelakangi sampah bisa membludak. Yaitu karena diterapkannya sistem Kapitalis Sekuler.

Penyebab ini tidak bisa ditangani dengan solusi parsial saja, akan tetapi harus dengan solusi yang mengakar. Yang membutuhkan tatakelola Pemerintahan yang berdasarkan Syariat Islam.
Jadi apakah masih ragu dengan Syariat Islam?
WalLaahu a’lam…