Oleh: Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI Kota Sukabumi)
Sahabat PGRI harus tahu agar tidak salah tafsir. Jangan gagal paham. Bila gagal paham maka akan gagal opini, gagal narasi, gagal fakta. Ujungnya publik yang tak tahu tertipu pesona palsu.
Saat ini PGRI diselimuti kabut perpecahan luar biasa. Harus segera diselamatkan! Jauh jauh hari Saya mengingatkan dalam buku yang Saya susun, berjudul Selamatkan PGRI, Selamatkan Guru.
Buku ini merekam jejak sejarah PGRI dan diantaranya kepemimpinan bermasalah era Ketua Umum yang sekarang. Mosi tidak percaya saat ini adalah akumulasi buruknya pemimpin puncak dalam mengelola PGRI.
Tidak ada asap kalau tidak ada kentut. Tidak mungkin, belasan pengurus PGRI provinsi, kokab meminta mundur Unifah Rosyidi kalau Ia baik baik saja dalam memimpin. Saya berikan beberapa fakta malapraktik dan gagal memimpin Unifah Rosyidi.
Pertama Ia memecat seorang guru di pengurus BPLP PB PGRI tanpa komunikasi dengan Sang Guru tersebut. Langsung pecat. Tidak pernah ada SP1, SP2, SP3. Guru dianggap apa ? Padahal Ia tokoh muda, masa depan PGRI yang memperjuangkan Ia sukses sebagai Ketua Umum PB.
Sang Guru ini memberi nama Unifah pada saat anak bungsunya lahir. Sebuah kekaguman dan idola pada sosok Unifah Rosyidi. Faktanya, Unifah Rosyidi mencampakan dari PB PGRI tanpa komunikasi.
Sangat otoriter dan bengis, kepemimpinan seperti ini. Ini pun identik dengan penghinaan pada sosok guru muda, pejuang dan Pengurus PGRI. Memecat dan memberhentikan minus etika organisasi, kode etik guru dan mekanisme organisasi, sangat bahaya.
Kedua Saat Saya sebagai Ketua PB PGRI pun, Sang Pemimpin puncak ini, tidak melakukan komunikasi humanis, atau bertemu berdua secara terhormat. Malah menebar kebencian dan asasinasi dalam grup WAG PB.
Beliau pemimpin yang gagal paham dalam mengelola organisasi besar. Caca Danuwijaya mengatakan gaya kepemimpinan Unifah Rosyidi tak cocok di PB, cocoknya di ranting. Level ranting, katanya.
Seumur hidup Saya di PGRI baru menemukan gaya kepemimpinan yang otoriter, sewot, panas dan emosional seperti Beliau. Dalam Surat Pengunduran diri, Saya tulis terkait *gaya kepemimpinan bermasalah*, terbukti sudah.
Gaya kepemimpinan yang menjauh dari kolektif kolegial bahaya bagi masa depan PGRI. Gaya kepemimpinan Unifah Rosyidi kenapa bermasalah ? Karena Ia tidak pernah menjadi dan teruji sebagai pemimpin PGRI daerah.
Kelakar yang berkembang saat ini, Unifah Rosyidi bukan Ketua Umum PB PGRI tapi, Kepala PB PGRI. Gaya memimpinnya Si Beda diberhentikan, Si Pendukung dipuja puji. Ia menjauh dari kultur budaya guru yang kekeluargaan, afirmatif dan edukatif.
Dalam agama islam, kalau imam sholat sudah ebat, kentut, tak dipercaya sebagian jamaah, sebaiknya mundur, ganti. Maju yang barisan depan (provinsi), kasian jamaah sholat. Masa sholat harus bubar? Idealnya demikian.
Memang berat bagi Unifah Rosyidi. Maju lagi akan terjadi konflik berkepanjangan, PGRI akan jadi korban. Mundur Ia pun galau. Kecuali kalau ada jabatan lain yang berhubungan dengan karirnya di PTN. Moga Beliau dapat hidayah dan Allah memberi hal terbaik bagi PGRI dan dirinya.











