OPINI/Artikel

Program Ajengan Masuk Sekolah, Mampukah Mencetak Generasi Bertakwa?

adminsigiku.com
×

Program Ajengan Masuk Sekolah, Mampukah Mencetak Generasi Bertakwa?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Entin Hayatin

Sebagai upaya mewujudkan kabupaten Bandung yang agamis, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung meluncurkan program Ajengan (Ustadz) Masuk Sekolah, yang diselenggarakan di SMA 1 Negeri Pangalengan Bandung, Kamis (27/7/2023). Dan yang menjadi sasaran program Ajengan Masuk Sekolah tersebut adalah SMA, sementara tingkat SMP dan SD sudah berjalan program guru ngaji masuk sekolah.

Program Ajengan Masuk Sekolah diluncurkan karena dihadapkan pada tantangan globalisasi dan era bonus demografi, dimana kualitas generasi muda harus terus ditingkatkan salah satunya dengan ilmu agama. Dalam kesempatan itu, bupati juga mensosialisasikan tiga muatan lokal yaitu Pendidikan Pancasila dan UUD 1945, Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda serta Belajar Mengaji dan Menghafal Al-Quran. Dengan harapan para siswa bisa mejadi pemimpin yang baik di masa depan.

Mengkaji islam bukanlah tugas sekelompok orang saja, melainkan kewajiban bagi seluruh umat muslim dan mengkaji islam ini bukan sebatas mengaji atau menghapal Alqur’an akan tetapi mengamalkan apa yang terkandung dalam Alqur’an seluruhnya baik pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, politik dan lain-lain. Tanpa mengkaji dan mendalami ilmu agama, bagaimana mungkin umat mengetahui yang hak dari yang batil, halal dan haram, membela keadilan dan melawan kezaliman.
Karenanya, program Ajengan Masuk Sekolah ini memang sudah seharusnya dilakukan. Sebab sekolah merupakan fasilitas untuk aktifitas mencari ilmu yang kondusif. Sehingga tercipta suasana yang agamis serta mampu mencetak generasi sholih dan sholihah. Namun, realitasnya ketika program Ajengan Masuk Sekolah ini adalah hanya sebagai program pesanan maka ilmu agama yang disampaikannya pun sesuai dengan pesanan. Alqur’an hanya sebatas dibaca tanpa digali dan dipahami makna yang terkandung di dalamnya dan tidak ada pengimplementasian dalam kesehariannya. Maka dapat kita lihat hari ini akhlak para pelajar yang jauh dari ajaran islam sebab buruknya kurikulum pembelajaran, tata kelola, dan rendahnya kualitas guru.
Sejatinya rendahnya kulitas pelajar dan pengajar saat ini disebabkan diterapkannya sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Apapun program yang dicanangkan pemerintah untuk menciptakan suasana agamis baik di lingkungan sekolah ataupun masyarakat tidak akan signifikan dalam mewujudkan generasi dan kondisi yang agamis selama sistem pendidikannya masih sistem kapitalis sekuler.

Sistem pendidikan dalam Islam memiliki keunggulan yang luar biasa yang dibangun dengan paradigma islam yang bertujuan untuk membentuk kepribadian islam, memiliki tsaqofah islam dan menguasai ilmu-ilmu kehidupan seperti sains dan teknologi. Kurikulum dalam sistem pendidikan islam berbasis akidah islam, dimana perangkat materi pelajaran, metode pembelajaran, strategi belajar, dan evaluasi belajar senantiasa bersandar pada akidah islam.
Adapun tenaga pengajar akan diprioritaskan oleh negara dalam sistem islam. Negara akan mempersiapkan tenaga pengajar yang profesional yang mempunyai kemampuan dalam bidangnya masing-masing. Negara pun tidak akan mentolerir segala bentuk pemahaman yang masuk ke lingkungan sekolah dan masyarakat. Sehingga akan tercipta suasana islami dimana masyarakat terbiasa untuk berdakwah dan menjadikan generasi muda sebagai agen perubahan masa depan.
Wallahu’alam bisshawab