Oleh : Sumiati (Ibu Rumah Tangga)
Dilansir dari SOREANG, AYOBANDUNG.COM, bahwa puncak musim kemarau, masyarakat diminta untuk mewaspadai kebakaran. Dikarenakan di musim kemarau banyak material yang mudah terbakar. Bahkan Kepala Seksi Evakuasi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung, Miftahussam, mengatakan di wilayah Kabupaten Bandung sering terjadi kebakaran dalam beberapa hari terakhir ini. Hampir setiap hari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung menerima laporan kebakaran. Dalam sehari saja ada dua sampai tiga kali kejadian.
Pada Minggu 30 Juli 2023 kemarin, pihaknya menerima laporan kebakaran di sebuah pabrik di Kecamatan Dayeuhkolot. Disusul kebakaran di sebuah rumah. Di hari sebelumnya juga terjadi hal yang sama di beberapa tempat. Selain rumah ada juga kebakaran lahan.
Penyebab kebakaran di rumah-rumah tersebut rata-rata diakibatkan oleh konsleting listrik. Sedangkan kebakaran lahan diakibatkan kelalaian manusia, seperti membakar sampah juga dari puntung rokok yang tidak dimatikan.
Masyarakat di himbau untuk selalu berhati-hati, ketika ingin bepergian hendaklah memeriksa kompor jangan sampai masih menyala. Dan jangan membuang puntung rokok yang masih menyala ke mana saja.
Seiring masuknya musim kemarau, sekitar Juni 2023, Indonesia juga diprediksi mengalami fenomena El Nino. Fenomena El Nino merupakan fenomena akibat pemanasan suhu muka laut (SML) di kawasan Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Hal ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah sekitarnya, termasuk Indonesia.
Fenomena ini diperkirakan berpuncak pada bulan Juli – Agustus dan berpotensi mengakibatkan wilayah Indonesia menjadi lebih kering. Menurut ditsmp.kemendikbud.go.id bahwa pemanasan global ini dipicu oleh kegiatan manusia terutama yang berkaitan dengan penggunaan bahan fosil dan kegiatan alih guna lahan. Kegiatan ini mengakibatkan jumlah gas karbondioksida (CO2) meningkatkan yang disebut rumah kaca. Sebenarnya zat CO2 di butuhkan dan akan diserap oleh tumbuhan untuk melakukan fotosintesis. Akan tetapi, karena semakin menipisnya hutan dan lahan hijau membuat kadar zat CO2 menjadi tidak terkendali. Beberapa faktor yang menyebabkan pemanasan global ini seperti gas industri, polusi bahan bakar, dan gas metana yang dihasilkan dari sampah plastik.
Suhu bumi yang meningkat dapat menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan dan ekosistem lainnya karena adanya perubahan iklim tersebut. Terlebih jarangnya hujan membuat material mudah terbakar, sehingga dengan api kecil yang tertiup angin pun akan mudah menimbulkan kebakaran.
Kalau seandainya kita memahami kondisi saat ini bagaimana suhu bumi ini meningkatkan, apakah hanya sekedar fenomena saja ataukah ada kaitannya dengan kehidupan manusia? Tentu ini tidak hanya sekedar fenomena semata tapi ada campur tangan manusia. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam QS ar-Rum ayat 41, yang artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Dan seperti inilah dampak dari tidak diterapkannya sistem Islam, banyak kerusakan yang diakibatkan oleh sistem yang membebaskan individu untuk mengelola yang menjadi kepemilikan umum. Sedangkan di dalam Islam kepemilikan umum itu hanya milik kaum Muslim yang tidak boleh dimiliki oleh individu. Dan yang mengelolanya seharusnya adalah negara, hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Wallahu’alam bishshawab
Sumiati











