Ragam

Menara Kujang Sapasang Dan “Sepasang” nya Petinggi Keraton Sumedang Larang Trah Prabu Siliwangi

adminsigiku.com
×

Menara Kujang Sapasang Dan “Sepasang” nya Petinggi Keraton Sumedang Larang Trah Prabu Siliwangi

Sebarkan artikel ini

Pewarta : S. GERVAN Epsa.

Koran Sinar Pagi, Sumedang – Berdirinya menara Kujang Sapasang di Bendungan Jatigede dengan tinggi 99 meter itu otomatis menjadi pelengkap wisata religi Jatigede yang satu lokasi dengan Mesjid Al Kamil.

Mesjid dan menara itu di desain khusus oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dalam upaya meramaikan dunia pariwisata di Jawa Barat khusus nya di Bendungan Jatigede Sumedang.

Dikutip dari wikipedia, Kujang merupakan sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat dan Kujang mulai dibuat sekitar abad 8 dan 9, terbuat dari besi dan baja, keluli dan bahan pamor, panjang nya sekitar 20 sampai 25 centimeter, dan beratnya sekitar 300 gram.

Ditilik dari sejarahnya senjata ini erat kaitanya dengan Kerajaan Padjajaran dan Rajanya Prabu Siliwangi yang berpusat di Pakuan Bogor, yang kini menjadi Kebun Raya Bogor, hingga tak heran di tempat itu dibangun monumen Kujang.

Selain itu Kujang pun menjadi lambang Pemrov Jawa Barat, karena sejarah Kerajaan Sunda pun tak lepas dari Jawa Barat dan juga Banten.

Menilik Kujang Sapasang dengan kata lain juga orang menyebutnya Kujang Kembar, maka di Keraton Sumedang Larang ( KSL) pun ada saudara kembar yang menjadi pejabat tinggi di Keraton Sumedang Larang. Kedua petinggi kembar itu yaitu Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga dan Rd. Lily Djamhur Soemawilaga, Mahapatih KSL.

Keduanya merupakan trah prabu siliwangi baik dari Pangeran Kornel putra Pangeran Soerianegara bin Wangsadita maupun dari Ratu Pucuk Umun Sumedang Larang istri Pangeran Santri , sementara Pangeran Santri merupakan leluhur raja – raja Sumedang Larang mulai dari Prabu Geusan Ulun dan seterus nya kebawah.

Pangeran Santri sendiri merupakan keturunan dari Raja Cirebon dari jalur ayahnya yang bernama Pangeran Muhammad ( Pengeran Pamelekaran) putra dari Pangeran Panjunan bin Datul Kahfi yang merupakan kerunan Nabi Muhammad ke 23.

Sementara itu Kerajaan Sumedang Larang di tahun 1578 dinobatkan menjadi penerus Kerajaan Padjajaran dengan tanda penyerahan Mahkota Bino Kasih sekaligus penyerahan pakaian kebesaran Radja Padjajaran, yang diserahkan oleh empat Kandaga Lante saat ibu kota Sumedang. Larang berada di Kutamaya.

Maka dengan munculnya Kujang Sapasang, yang Kujang itu merupakan senjata andalan Prabu Siliwangi, dikaitkan
dengan adanya ” petinggi” kembar ( sapasang) dilingkungan Keraton Sumedang Larang, hal itu menarik untuk disimak.

Terkait hal itu, Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga, mengatakan, bila hal itu merupakan rahasia alam,

” Memang saya dan kang lily adalah saudara kembar, dan saat ini kami berada dan mengelola keraton Sumedang Larang, mudah mudahan dengan keberadaan Keraton Sumedang Larang ini memberikan kontribusi menciptakan daya saing daerah berbadis budaya untuk meningkatkan eksistensi budaya Sunda , kepariwisataan dan kesejahteraam ekonomi bagi daerah sehingga memberikan nilai manfaat untuk masyarakat luas dan mengharumkan nama sumedang ditingkat nasional maupun internasional ” ujar nya, di keraton , Senin, ( 14/8/2023).

Sementara itu Rd. Lily Djamhur Soemawilaga menambahkan, ” Dengan adanya destinasi wisata ber simbol Kujang Sapasang di Sumedang, yang senjata itu merupakan senjata ampuh saat Kerajaan Padjajaran. Sementara Sumedang Larang merupakan Kerajaan Penerus Padjajaran maka ada chemistry yang mungkin bermakna di dalamanya
Itu hanya Alloh yang tahu. Intinya dengan adanya destinasi wisata Kujang Sapasang, Sumedang bisa lebih baik”, tutur nya.****