Peristiwa

Ditenggarai Akibat Konsleting Listrik, Pesantren Tahfiz Quran di Cipancar Sumedang Nyaris Ludes Dilalap Sijago Merah

adminsigiku.com
×

Ditenggarai Akibat Konsleting Listrik, Pesantren Tahfiz Quran di Cipancar Sumedang Nyaris Ludes Dilalap Sijago Merah

Sebarkan artikel ini

Pewarta : U. Jamaludin Epsa

Koran Sinar Pagi, Sumedang – Kebakaran yang menimpa salah satu pondok pesantren tahfiz Quran Khoirul Umah yang berlokasi di blok Tajur Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan, kabupaten Sumedang.Jawa Barat.

Agisna Biaunillah seorang santri kelas IX asal lingkungan Kaum Sumedang nyaris menjadi korban jika tidak segera meloncat dari Asrama Tahfiz Quran yang sudah terkepung api, Minggu, (20/8/2023).

Anak itu panik saat api api sudah melalap sebagian asrama yang berlokasi di Blok Tajur, Dusun Cierih RT 04 /05, Desa Cipancar, tempat dirinya mondok. Dari kebakatan itu, dia hanya menderita luka-luka ringan dan saat ini tengah dalam perawatan.

Saat kebakaran, satu unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian sekitar pukul 12.30 WIB, sesampai di lokasi langsung berusaha menjinakan api dibantu warga dengan peralatan seadanya. Dan Api baru dijinakan sekitar pukul 14.00 Wib.

Saat ditanya wartawan Kades Cipancar, Yisman, yang ditemui di lokasi kejadian belum bisa merinci asal muasal terjadinya kebakaran, kemungkinan saja berasal dari arus pendek listrik menyambar material yang dekat dan timbulah kebakaran.

“Saat kejadian saya tengah acara pawai, ketika mendapat informasi langsung ke lokasi kejadian,”kata Yusman Kades Cipancar kepada koransinarpagijuara.com

Asrama pesantre yang mulai dibangun tahun 2019 lalu, saat ini menampung beberapa orang santri. Beruntung asrama dalam kondisi kosong hanya ada satu orang dan berhasil
meloloskan diri dengan cara meloncat dari lantai 2 sehingga kakinya cedera,”kata Fengki, saksi mata yang berhasil ditanyai wartawan.

Pihak pemerintah kecamatan, yang diwakili Sekertaris kecamatan, Kiki Hakiki berjanji akan berkordinasi dengan Pihak terkait untuk meringankan beban para santri, minimal pakaian dan makanan serta selimbut.

“Harap bersabar saja, kami akan berusaha untuk membantu meringankan beban para santri. Semoga kedepan bisa membantu memikirkan langkah selanjutnya”, kata Kiki di hadapan para santri yang saat ini
ditampung di rumah salah seorang warga.

Orang tua siswa yang mendapat kabar terjadinya kebakaran yang menimpa asrama putranya segera menghubungi pihak pesantren,

“Kedatangan ke Pesantren saya ingin memastikan keselamatan anak saya. Selain itu saya juga ingin menguatkan batin anak saya.” ujar Adrian (45), salah satu orang tua siswa, usai ditemui di rumah salah seorang pengasuh yang menampung anak-anak santri berjumlah 12 orang***.