OPINI/Artikel

Syukuri Kemerdekaan Dengan Mau Diatur Oleh Aturan Islam

adminsigiku.com
×

Syukuri Kemerdekaan Dengan Mau Diatur Oleh Aturan Islam

Sebarkan artikel ini

Oleh : Neng Tintin (Ibu Rumah Tangga)

Pada peringatan HUT RI ke 78, tepatnya di tanggal 17 Agustus 2023 kemarin, Bupati Bandung HM Dadang Supriatna dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 78.

Dengan semangat Kemerdekaan itu, Bupati Bandung yang akrab disapa Kang DS itu, menyampaikan bahwa dalam mengisi Kemerdekaan, Kabupatèn Bandung akan terus mengggali berbagai potensi yang ada di daerah.
Kang DS pun menambahkan, dengan memangaatkan Demografi, dan kemajuan teknologi dan mengimplementasikan amalan nilai-nilai Pancasila dan keagamaan, juga kerjasama dengan semua stake holders, ia meyakini bahwa kesejahteraan Kabupaten Bandung bisa segera terwujud.

Melalui 3(tiga) aspek yang mencakup perekonomian, kesehatan, dan pendidikan, serta ditopang dengan program prioritas Pemkab Bandung, Kang DS menyebutkan pastinya akan terealisasikan Kabupatèn Bandung yang Bangkit Edukatif Dinamis Agamis dan Sejahtera, (BEDAS).

Dari 3(tiga) program prioritas tersebut, menuturkan adanya pengurangan jumlah pengangguran, berkurangnya stunting, meningkat ya SDM dan IPM, termasuk tingkat kesehatan masyarakat Kabupaten Bandung.
Melalui pemberian kartu tani, Insentif guru ngaji, Bantuan Bergulir Tanpa Bunga, pembangunan gedung rumah sakit daerah, juga gedung sekolah, ditegaskannya bisa menjadikan instrumen dalam upaya peningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Semoga saja peningkatkan itu terus berlanjut secara signifikan, yang tentunya kemajuan itu tidak terlepas dari peran serta masyarakat dalam mewujudkannya, ujarnya. Sumber: ayobandung.Com
Akan tetapi, mungkinkah kesejahteraan ini dapat terwujud hanya dengan 3 (tiga) program prioritas ini?
Sementara masalah terbesar kita saat ini sering diabaikan, yakni masalah sistem yang membelenggu, karena ketika sistem yang saat ini diterapkan itu sistem yang salah, sistem yang bukan berasal dari Sang Pencipta, Allah SWT, kesejahteraan mustahil akan dapat dirasakan.

Buktinya dengan sudah 78 Tahun Indônèsia merdeka, akan tetapi cita-cita yang diharapkan oleh bangsa ini masih jauh panggang dari api. Seperti keadilan, kemakmuran, kesejahteraan, dan yang lainnya.

Pasalnya angka kemiskinan masih tinggi, angka pengangguran masih banyak, biaya pendidikan khususnya pendidikan tinggi masih mahal, harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, belum lagi Listrik, LPG, dan bahan pokok lainnya, serta pajak yang terasa semakin mencekik. Ini lah bukti gagalnya sistem yang selama ini diterapkan, dan seolah berusaha dipertahankan.

Kita harus sadari bersama, kalau negeri ini masih belum baik-baik saja, masih banyak permasalahan mendera, belum lagi masalah korupsi yang seolah tiada henti, ketidakadilan pun dirasa makin nyata, hukum dirasa makin tajam kebawah dan tumpul ke atas, sehingga banyak koruptor dihukum ringan, bahkan divonis bebas. Sebaliknya tak sedikit rakyat kecil yang terpaksa mencuri hanya demi sesuap nasi, tapi diberikan hukuman yang berat.

Belum lagi masalah moral pun kian menghantui, terlihat dari prilaku generasi muda yang semakin merosot. Banyaknya pemuda ikut tawuran, seks bebas makin merajalela, belum lagi masalah narkoba, terjerumusnya kedalam prilaku LGBT, Bull-ying (perundungan), dan beragam kriminalitas yang makin beragam dan mengerikan lainnya.

Disisi lain, kesenjangan ekonomi makin melebar, kekayaan alam lebih banyak dinikmati oleh segelintir orang. Mereka adalah para pengusaha dan korporasi asing dan aseng. Mereka lah yang selama ini menguasai sebagian besar sumber daya alam, seperti barang tambang (emas, perak, nikel, tembaga, bijih besi), energi seperti (batu barat, manyak dan gas). Belum lagi penguasaan terhadap hutan dan lahan.

Dan hari ini indonesia sudah menginjak 78 Tahun merdeka, dan tentu anugerah ini patut kita syukuri. Akan tetapi Kemerdekaan saat ini masih belum dapat dikatakan sebagai kemerdekaan yang hakiki. Sebab, bangsa dan negeri ini bisa dikatakan benar-benar meraih Kemerdekaan hakiki, ketika mereka mau tunduk sepenuhnya kepada Sang Pencipta, yakni Allah SWT.

Bukan seperti saat ini yaitu menjadikan manusia sebagai budak bagi manusia yang lainnya. Karena itu Islam telah mengharamkan segala be
ntuk penjajahan, baik itu penjajahan secara fisik maupun non fisik. Dan Allah telah memerintahkan kita hanya menghamba kepadaNya. Allah SWT berfirman:
“Sungguh Aku adalah Allah. Tidak ada Tuhan yang lain, selain Aku. Karena itu sembahlah Aku.(Qs. Thaha :14).
Ini lah kalimat tauhid. Kalimat tauhid ini pada dasarnya telah terpatatri didalam hati setiap muslim. Jika ketauhidan itu masih murni maka pemahaman dari ketauhidan itu akan murni dan jernih pula. Dan ketauhidan itu akan membangkitkan semangat penghambaan hanya kepada Allah saja. Serta spirit tauhid ini akan membangkitkan perlawanan segala bentuk perbudakkan/penghambaan atas sesama manusia. Termasuk penjajahan atas segala bangsa.

Tentu dengan mentaati seluruh perintah dan laranganNya, yakni dengan melepaskan diri dari belenggu sistem sekuler yang jelas-jelas bertentangan dengan tauhid seraya menerapkan sistem Islam secara total.

Dan ini menjadi tugas kita bersama, untuk mewujudkan Kemerdekaan hakiki itu, Jika perjuangan dulu bertujuan untuk merebut Kemerdekaan dari penjajah fisik, kini diperlukan perjuangan yang baru agar bangsa ini bisa terlepas dari penjajahan non fisik.

Membebaskan Umat dari belenggu penjajahan yang sesungguhnya, yakni penjajahan sistem, hukum jahiliyah, ekonomi kapitalis, budaya dan segenap tatanan yang tidak islami. Dengan selanjutnya kita wajib berupaya dan berjuang untuk menegakkan tatanan masyarakat dan negara yang benar-benar bertumpu pada prinsip tauhid, tatanan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah tatanan yang diatur oleh aturan-aturan Allah SWT.

WalLahua’lam