Pewarta: Jeky Epsa
Koran Sinar Pagi, Sumedang – Salah satu orang tua santri Pondok Pesantren ( Ponpes) Al – Hikamussalafiyyah Tanjungkerta Sumedang, Jawa Barat menyesalkan terjadinya tindak kekerasan terhadap anak nya yang dilakukan oleh seorang siswa kakak kelas , di Ponpes Jalan Sukamantri No. 85 Tanjungkerta, Kaupaten Sumedang, Jawa Barat, dan akibat tindak kekerasan itu anaknya sempat mengalami luka dikepala hingga 5 ( lima) jahitan.
Ungkapan terjadinya tindak kekerasan itu , disampaikan oleh orang tua siswa berinisial NK, ayah anak berinisial “S”, 13 tahun, warga Cimalaka, saat dikonfirmasi koransinarpagijuara.com, melalui saluran WhatAp, Jumat ( 1/9/2023).
Dari pengakuan NK, kejadian itu sekira satu bulan lalu pada tengah malam, dan yang disesalkannya pihak Ponpes tidak sigap memberitahukanya
Lanjut dikatakan dia, diduga pelaku sudah merencanakanya hingga terjadinya tengah malam, saat yang lain sudah pada tidur.
Dkatakan NK lagi, kemungkinan anak nya dipukul lalu ditendang tapi saat ditendang anaknya refleks menahan dengan kedua tangannya, dan akibat keras nya tendangan maka kepalanya terjengkang dan membentur ke tembok dibelakangnya, sehingga saat membentur kepala anaknya mengalami luka cukup parah sehingga perlu dijahit sebanyak 5 jahitan. Selain itu ada juga luka lebam di mata sebelah kiri kemungkinan akibat dipukul.
” Saya sangat menyayangkan kejadian itu, dan itu sebenarnya sudah kejadian yang ke dua kalinya. Sebelumnya anak saya juga mendapat perlakuan kekerasan berupa tamparan, nanun dari pelaku yang berbeda”, jelas NK.
Saat kejadian yang pertama, kata NK, saya masih bisa mentolerirnya, saat itu juga saya sudah wanti – wanti agar kejadianya tidak terulang, ” Namun apa daya masih tetap berulang dan lebih parah”, sesal nya.
Kemudian, kata NK, yang membuat jengkel itu karena tahunya bukan langsung dari pihak pesantren tapi dari salah satu saudaranya.
” Harus nya yang sigap itu pihak ponpes yang memberi tahu ke keluarganya, ini malah bukan. Kalau bukan dari saudara saya, saya benar – benar tidak tahu. Hal itu sangat disesalkan, ponpes sepertinya mendiamkan masa mereka tidak tahu kejadian itu, atau mungkin malah menutupinya”, tandas nya.
Dari kejadian itu, NK pun menduga ada kelalaian yang disengaja dari pihak ponpes. Apalagi kalau ditelaah dia mengetahui peristiwa itu ada jeda waktu yang cukup lama.
” Kejadianya tengah malam tapi saya tahunya baru besok nya sekitar pukul lima sore dan itupun saya dikasih tahu saudara saya tadi”, ungkap nya.
Saat itu, begitu saya melihat anak saya di pesantren, saya benar – benar kaget karena kondisi anak saya ada luka dikepala serta lebam di mata.
” Saat itu juga saya langsung bawa ke medis dan mendapat perawatan hingga 5 ( lima) jahitan”, tegas nya.
Masih dikatakan NK, selang beberapa hari berikutnya memang ada telpon dari pihak pesantren agar saya datang ke sana nanun saya tidak mau.
” Saya benar – benar marah, maunya mereka ( pihak pelaku) bersama dari pesantren yang datang ke rumah saya minta maaf, bukan saya yang harus datang ke pesantren. Namun hingga kini tidak ada yang datang satupun”, ucapnya.
Diakui NK, kini anaknya sudah dipindahkan ke sekolah lain, hal itu karena khawatir kejadian serupa berulang kembali, bahkan lebih parah.
” Saya langsung memindahkan anak saya karena saya khawatir, sekarang kejadianya luka, bagaimna kalau berikutnya lebih fatal, misalnya sampai nyawa melayang”, tandas nya.
Saya berharap ada penanganan yang serius dari pihak terkait agar kejadian ini tidak terulang dan tidak menjadi tradisi yang turun temurun, ungkap NK.
Terkait terjadinya tindak kekerasan, pihak Ponpes Al – Hikamussalafiyah, melalui sesepuh Ponpes, KH. Muhammad Aliyuddin tak menyangkal atas terjadinya tindak kekerasan itu.
” Betul ada kejadian itu ( tindak kekerasan ) tapi saya tidak tahu detilnya, kemudian ada orang tua pelaku datang kesini bahkan sudah dua kali. Kami juga melakukan pemanggilan ke pihak korban, namun pihak korban tidak datang.
Saya maunya ada pertemuan dulu kedua belah pihak, mungkin bisa saling memaafkan, terus kalau selanjutnya mau gimana itu terserah”, ucap KH Muhammad Aliyuddin, kepada wartawan di rumah nya, Jumat, ( 1/9/2023).
Dan dari keterangan Kiyai, untuk siswa pelaku kini sudah keluar , katanya sih takut ada ancaman.
” Penyebab kejadianya kemungkinan berawal dari adanya ketersinggungan”, tukas kyai.
Dari keterangan orang tua korban, peristiwa ini sudah dilaporkan ke pihak Polres Sumedang , dengan bukti laporan nomor : STTLP/B/309/VII/2023/SPKT/POLRES SUMEDANG POLDA JAWA BARAT.
Sementara itu terkait adanya bulying, diungkapkan seorang ibu siswa berinisial, NH, yang juga anaknya masuk di Ponpes Al – Hikamussalafiyah.
” Anak saya mengalami buly dari sesama siswa dengan ejekan namanya dipanggil dengan sebutan nama saya, itu kan menyinggung perasaan anak saya. Berikutnya juga baju anak saya pernah dikotori dengan dahak yang menjijikan”, ucap NH, dirumahnya, Sabtu, (2/9/2023).
Selain itu juga, lanjut NH, saat anak saya sakit, barang dan makanan yang ada diloker hilang ada yang menjebol.
” Akibat itu, anak saya jadi tiidak betah bahkan seperti trauma sempat mau berhenti sekolah. Namun saya menasehatinya agar tetap berlanjut karena untuk kesana sudah mengeluarkan biaya Rp 8.000.000 dan uang itu sangat besar bagi saya”, ujar nya.
Sebagai orang tua,,lanjut dia, saya sangat menyesalkan atas kejadian itu, saya tidak membenci pesantrenya tapi kejadian ini mesti ada perbaikan agar ada perubahan dan tidak terulang, ungkap NH.****
