Mirisnya “Geng Motor” Lahir dari Peradaban Sekuler

0
200

Oleh : Aan Amanahtia (Ibu Rumah Tangga)

Sebagaimana kita ketahui, mirisnya geng motor makin meresahkan saja. Bagaikan bak jamur di musim hujan, geng motor makin banyak dan meresahkan masyarakat. Tidak sedikit korban yang langsung tewas ditempat.
Hanya alasan ingin bertarung, remaja tega menganiyaya siapun yang dilewatinya. Bermodalkan motor dan senjata tajam, celurit, hingga samurai, mereka menerjang malam mencari mangsa.

Demikianlah satu dari sekian banyak potret buram tingkah laku generasi, kenakalan remaja telah menjelma menjadi kriminalitas yang sangat meredahkan. Mengapa fenomena geng motor kian marak?

Fenomena geng motor hadir ditengah corak peradaban sekuler liberal.
Peradaban sekuler adalah paham yang menjauhkan agama dari kehidupan manusia bertingkah laku berdasarkan nafsunya semata.

Konsekuensi dari peradaban sekuler adalah liberalisme, yaitu pemahan yang membebaskan tingkah laku manusia. Manusia dianggap mampu menyelesaikan seluruh urusannya tanpa bantuan sang Pencipta. Padahal, akal manusia lemah dan terbatas yang jika dibiarkan tanpa bimbingan wahyu akan mengantarkan pada kerusakan. Inilah pangkal malapetaka umat manusia saat ini.

Peradaban ini pun tidak ada dengan sendirinya. Kepemimpinan peradaban Baratlah yang telah sengaja mengembuskannya ke seluruhnya penjuru dunia, terlebih kenegeri-negeri muslim agar umatnya meninggalkan agamanya. Tujuan mereka hanya satu, yaitu menguasai dunia.

Propaganda “kebebasan akan mendatangkan kebahagiaan” Terus mereka dengungkan dan kini sukses menginjeksi pemikiran umat manusia, termasuk generasi muda untuk hidup semuanya dan tidak acuh pada agamanya.

Oleh karena itu, akibat agama dijauhkan dari kehidupan, Ayah dan ibu membangun keluarga tidak berlandaskan iman dan taqwa. Banyak dari ayah dan ibu yang tidak memahami bahwa anak adalah amanah yang harus di jaga. Mereka dengan nudahnya menyerahkan pengasuhan pada pihak lain dengan alasan sibuk bekerja.

Akhirnya, orang tua hanya mengandalkan sekolah dalam mendidik putra-putri mereka. Padahal anak sangat membutuhkan kehadiran kedua orang tuanya sebagai sandaran dan teladan. Namun alih-alih menjadi teladan, orang tua malah menjadi contoh buruk, bahkan menjelma menjadi predator bagi anak mereka.

Sekolah menjadi andalan utama para orang tua, nyatanya memiliki segudang persoalan yang lahir dari buruknya peradaban pendidikan sekuler. Pendidikan hari ini jauh dari nilai-nilai agama. Jangankan akidah Islam, generasi terus dijejeli dengan akidah liberal yang membebaskan perilaku manusia.

Keberadaan geng motor bukan baru terjadi tahun ini. Hilangnya nyawa manusia akibat perilaku biadab geng motor ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lampau. Namun, kenapa keberadaan mereka masih ada dan kian meresahkan masyarakat.

Salah satunya adalah karena sanksi yang diberikan tidakkah menjerakan. Misalnya seprti baru- baru ini, ada aksi ketua geng motor diBandung yang menebas leher seorang remaja hingga tewas ditempat. Polisi menjerat pelaku dengan pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman berkaisar hanya sekitar 10 tahun penjara. Padahal pelaku sudah menghilangkan nyawa! Akan tetapi atas nama HAM, kisas tidak bisa diberlakukan.

Belum lagi hukum yang tumpul pada, pemilik uang dan oknum aparat yang kerap bekerja untuk pejabat, menjadikan keadilan bagai mimpi disiang bolong bagi seluruh Indonesia.

Dengan demikian, ajaran islam yang berasal dari wahyu Allah Ta’ala sudah pasti dapat menjawab dan menyelesaikan seluruh persoalan nanyaia, termasuk fenomena geng motor. Berkebalikan dengan sekularisme, islam memandang bahwa agama harus menjadi pedoman hidup manusia. Dari sanalah kita akan meyakini bahwa islam adalah agama yang mampu menyelesaikan seluruh urusan umat manusia.

Agama juga menjadi landasan amal seseorang yang akan mengantarkan pada bangunan rumah tangga yang berlandaskan akidah islam. Ayah-ibu yang memahami agama akan menempatkan anak sebagai amanah yang harus dijaga sehingga pengasuhan pun akan optimal fungsi ayah-ibu dikembalikan pada syariat, yakni ayah mencari nafkah ibu menjadi ummun WA rabbatul baiti.

Wallahu’alam bishawab