Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Kata stigmatik planga plongo identik diberikan pada Presiden RI. Sebuah ungkapan tak elok yang diberikan pada pemimpin sebuah negara yang sangat besar bernama Republik Indonesia.
Lebih parah lagi bila orang yang mengatakan planga plongo malah memuji muji pemimpin negara lain. Hampir semua makom diskusi terutama di Jawa Barat, identik dengan anti membicarakan kebaikan Presiden RI yang sekarang.
Itu semua bisa jadi karena banyak hal. Bisa karena polarisasi politik, mengikuti apa kata sejumlah oknum ulama politik atau tokoh-tokoh panutan mereka. Jawa Barat, secara politik dua kali Pilpres memang unggul memenangkan yang kalah.
Kekalahan dua kali Pilpres bisa jadi asbab mengapa mayoritas tidak apresiatif pada Presiden RI saat ini. Itulah sisi lain dinamika politik yang terjadi di masyarakat. Ini biasa karena “bisa” politik.
Menarik paparan Prof. Rhenald Kasali yang mengatakan bahwa saat ini Presiden RI, Joko Widodo malah berada pada urutan tertinggi pemimpin dunia paling populer. Ia berpeluang mendapatkan nobel. Sebuah peluang prestisius dunia.
Selain itu, faktanya keluarga Presiden RI kini dominan di percaya masyarakat. Gibran menjadi walikota, Bobby menjadi Walikota dan Kaesang menjadi ketum partai politik.
Mungkinkah orang yang distigma planga plongo berpeluang mendapatkan nobel dan keluarganya dipercaya masyarakat untuk memimpin. Bisa jadi stigma planga plongo, ujungnya berubah jadi terpelongo.
Pelan tapi pasti sejarah akan membuktikan transformasi stigmatik planga plongo berubah jadi terpelongo. Semua ujungnya akan terdiam dan terpelongo melihat penghinaan pada sebuah keluarga menjadi kekaguman.
Terutama pasca Jokowi tak menjadi Presiden RI lagi, pasti akan lebih objektif masyarakat melihat. Mengapa? Karena Ia sudah bukan pemimpin formal sebagai Presiden RI melainkan menjadi tokoh bangsa yang terbaik.
Sukarno, Suharto, Gus Dur, Megawati, Habibie, SBY menurut Denny Januar Ali, Ph.D, adalah pemimpin yang berujung menyedihkan. Jokowi diprediksi unggul sebagai Presiden RI satu-satunya yang tidak berujung menyedihkan. Tetap dikagumi mayoritas rakyat Indonesia sampai akhir jabatan.
Dr. KH Syaiful Karim, seorang hafiz Qur’an menyatakan bahwa orang yang mudah menghakimi, menghina dan memperolok orang lain apalagi pemimpin, sesungguhnya dalam qolbunya mengalami ketiadaan Tuhan.
Pikiran dan hati yang tertutup dari cahaya Ilahi akan selalu melontarkan kata dan tindakan menghakimi. Allah penuh kasih dan sayang, pemaaf dan bahkan tanpa diminta hamba_Nya. Ia mema’afkan makhluk yang paling dikasihi_Nya.
