Oleh : Lisyanah
(Guru SMAN 1 Parung Panjang)
Jika ada pertanyaan, kenapa anda menjadi guru? Bukan pertanyaan yang mudah menurut saya, harus merenung beberapa menit dengan alis dan kening yang berlipat. Mata mulai mencari-cari jawaban dibalik plafon rumah yang sudah berdebu. Karena Jika saya jawab dengan jawaban idealisme ’untuk mendidik anak-anak bangsa menjadi orang-orang yang hebat yang bisa membangun bangsa dan negara”, kening saya akan lebih berlipat, banyak pertanyaan susulan yang menyerbu hati saya, seidealis itukah tujuan saya mengajar, bagaimana kalau saya tidak dibayar ? Bagaimana kalau gaji kecil dan habis buat transportasi dari rumah ke sekolah yang jaraknya hampir 10 km, masihkah saya mengajar ? Dengan malu, saya menggelengkan kepala pelan. Oh iya, mumgkin hanya untuk mengisi waktu kosong diantara kesibukan mengurus rumah tangga? No, tidak sesimpel itu, toh, saya suka melihat anak dengan malu mengacungkan tangan kurusnya dan bertanya, walaupun pertanyaannya bukan pertanyaan penting, tapi hati saya Bahagia, ya, sebahagia itu.
So, mungkin hanya karena ingin mengamalkan ilmu yang saya dapat waktu di bangku kuliah dulu selama lima tahun? Bisa jadi, atau mungkin hanya ketidak sengajaan semata, kesempatan mengajar datang di waktu saya mulai jenuh berleha-leha di rumah? Bisa jadi. Atau, karena anak saya yang sudah remaja waktu itu, selalu bertanya, mama kan pinter, kok gak ngajar ? (padahal gak selalu orang pinter berprofesi jadi guru) bisa jadi. Atau buah dari doa-doa orang-orang yang hadir dan berperan dalam kehidupan saya? bisa jadi, Akhirnya, pertanyan awal, kenapa anda menjadi guru? Jawabannya bisa seribet itu, bahkan menjadi kuis seperti di tv yang jawabannya hanya “bisa jadi”.
Apapun tujuan mengajar saya, toh akhirnya saya dihadapkan kepada realita yang tidak terbantahkan Ketika mengajar. Saya guru PAI yang harus selalu istigfar dan zikir pelan Ketika berhadapan dengan tingkah laku anak di kelas. Kemampuan dasar membaca al-Quran menjadi tantangan yang paling berat. Bagaimana tidak, Ketika saya berikan buku Iqro (buku belajar baca huruf Arab untuk anak setingkat SD) padahal saya mengajar anak SMA, dengan santai dan tanpa rasa berdosa mereka hanya menjawab “tidak bisa, bu”. Mata saya yang terbelalak, mulut yang ternganga, dan hampir meneteskan air liur (bukan karena terpesona) malah menjadi pemandangan yang indah buat mereka. Dan saya tahu pada akhirnya, bahwa dari data statistik Indonesia menunjukkan, sekitar 225 juta muslim di tahun 2017, atau sebanyak 60 % termasuk kategori buta huruf al-Qur’an dan menurun menjadi 54 % di tahun 2018. Miris memang, tapi ini fakta, realita..
Pertanyaan “ berapa kali kamu sholat dalam sehari ?” berganti seiring waktu dengan pertanyaan“ sudah sholat subuh hari ini?” adalah pertanyaan yang selalu jawabannya membuat saya shock sendiri. Lagi-lagi jawaban santai keluar dibarengi dengan cengengesan polos mereka “kesiangan, Bu”. Saya harus menghela napas pelan-pelan diringi dengan lapadz istigfar sendu di mulut saya. Astagfirullah, Allah ampuni aku. Padahal kata Rosulullah, shalat adalah tiang agama, shalat adalah hal pertama yang akan dihisab dari diri seorang hamba, Shalat adalah bentuk ketaqwaan kita kepada Allah, juga sebagai bentuk Syukur. Lalu bagaimana jika kita tidak sholat? Silahkan anda bayangkan sendiri..
Sering kali saya temui anak-anak Perempuan dengan rambut yang terlihat berwarna-warni seperti Pelangi. Belum lagi bibir-bibir merah pedas seperti cabe, alis-alis hitam tidak alami, entah memakai eye shadow, eye lashes, dan istilah-istilah lain yang bahkan saya sendiri sebagai Perempuan tidak pahami. Kalau saya tanya alasannya, mereka hanya bilang dengan bangga “kan supaya cantik, bu. Keren..Biar banyak cowok yang suka”. Astagfirullah, ini niat belajar atau niat pamer muka??. Saya tanya soal tabarruj, meraka malah balik bertanya, “ap a itu, bu?” Alhamdulillah, akhirnya mereka tertarik untuk tahu, atau minimal hanya bertanya iseng juga saya tetep Bahagia. Dalam Tafsir Ibnu Katsir tabarruj adalah Wanita yang berpenampilan sedemikian rupa, baik dengan riasan, dengan pakaian atau perhiasan, sehingga dia menarik perhatian dan syahwat kaum laki-laki, kata saya. Dan hukumnya haram, berdosa. Hening, saya kira mereka memperhatikan saya, ternyata Kembali asyik dengan riasan bulu mata, astagfirullah..
“Barang siapa tidak mau merasakan pahitnya belajar, ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya”
Imam Syafei
Saya pikir awalnya motivasi dari Imam Syafei itu adalah untuk anak-anak yang sedang sekolah, mereka sedang belajar. Saya kan guru, pikir saya sombong. Tapi Allah membuka kesadaran saya, dari berbagai peristiwa yang saya alami dan berhubungan dengan bad habit mereka, pendekatan personal, mempelajari latar belakang hidup anak, singkatnya, dekat dengan mereka. Kesimpulan saya, Saya yang harus belajar. Sebagai guru, saya tidak hanya dituntut mengajar hanya di dalam kelas saja, belajar teori-teori yang harus dihapalkan saja, ulangan dan Latihan yang wajib dikerjakan saja, mencamtumkan nilai dalam bentuk angka saja, tidak cukup.
Menurut Ki Hajar Dewantara seorang guru adalah in ngarso sung tulada, ing madya mangun karo, tut wuri handayani. Filosofi jawa yang artinya bahwa sorang guru harus bisa menjadi contoh yang baik bagi siswanya, Guru harus mampu mempraktekkan nilai-nilai yang mereka ajarkan, seperti disiplin, kerja keras, kejujuran, dan toleransi. guru juga harus bisa membantu siswa mengembangkan potensi diri, dan guru harus bisa menjadi sumbu semangat untuk menggapai cita-citanya siswanya. Bukan kebalikannya.
Dari sini mulailah saya belajar, mencoba memberikan contoh datang lebih pagi (walaupun jujur, susah untuk dilakukan, ingat, jarak rumah saya ke sekolah dengan kondisi jalan yang bolong disana-sini), bersikap sabar Ketika meraka beralasan haidh selalu pada materi mengaji, tapi diganti dengan obrolan hangat seperti anak dengan ibu, tapi dimasukkan materi pentingnya mengaji, atau keajaiban Al-Qur’an, atau kisah orang-orang hebat dalam Al-Quran. Kadang waktu istirahat saya habiskan dengan mendengarkan curhatan beban hidup meraka, memeluk mereka dengan Ikhlas, menangis bahkan tertawa bareng, pembelajaran di kelas pun saya ganti dengan yang lebih smooth, lebih banyak materi yang saya bungkus dengan games atau ice breaking. Tempat belajarpun berpindah-pindah, nomaden asli. Bahkan di kelas saya berusaha menjadi pemain teater, kadang menjadi pelawak! Yap, pelawak.
8 tahun berlalu, saya tidak berani menilai bahwa usaha saya berhasil. Tapi kalau sedikit berubah, mungkin dan bisa jadi. Saya selalu mendengar kata-kata “kangen ibu”, “kapan ngajar di kelas lagi?”, atau yang lebih terharu “Bu, kalau aku kerja, aku gak mau nyogok, kan kata ibu nyogok itu haram” polos memang, tapi hanya sekedar begitupun saya meleleh. “Bu, aku putus sama pacar aku..kan pacaran haram dalam Islam, iya kan bu?” meleleh lagi. Tapi saya yakin, masih banyak PR buat saya, buat guru-guru lain juga. Dan intinya saya harus terus belajar, tidak boleh Lelah belajar, apalagi berhenti belajar. Belajar untuk mencari hilal, mencari permata di tumpukan batu-batu kerikil, mencari Bintang di gelap malam. Ya, menjadikan siswa biasa, menjadi luar biasa. Amin ya robbal alamin..
