Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Pagi di gerbang sekolah seorang guru senior mengadu kepada Saya, “Bagaimana pendapat Bapak terkait guru honorer yang bernama Akbar Saroso, guru PAI di SMK Negeri 1 Taliwang, yang dilaporkan orangtua siswa dan dituntut Rp 50 juta, gegara hukum murid tak shalat.
Saya senyum dan berkata, “Orangtua itu yang mengadukan lebay dan tak mengerti dunia pendidikan”. Namun Saya katakan, “Bisa juga Sang Guru Honorer pendekatan mendisiplinkan anak kurang pas”.
Ketika ketemu dua pihak (orangtua dan guru) sama sama egois dan tak mengerti dunia mendidik anak akan ada masalah. Sebaiknya Sang Orangtua memahami mengapa Sang Guru “mendisiplinkan” anak.
Sang Guru pun harus sangat memahami ilmu pedagogik yang diferensiatif. Anak adalah “makhluk” diferensiatif yang punya “kenakalan” dan unikasi sendiri. Keragaman karakter, mental dan bahkan latar belakang keluarga harus dipahami dengan baik.
Anak yang lahir dari keluarga bermasalah, orangtua lebay dan temperamental, harus diwaspadai. Tidak sedikit orangtua yang mengadukan guru. Orangtua macam ini adalah orangtua lebay dan pasti dahulu saat sekolah pun bermasalah.
Apalagi orangtua yang lebih koopertif kolaboratif dengan preman, oknum LSM dan Ormas tertentu. Orangtua jenis ini adalah orangtua ABK yang memang secara mental agak sakit. Orangtua “sakit” biasanya merendahkan derajat profesi guru demi anaknya.
Beberapa hal harus diperhatikan di zaman ini, dimana orangtua merasa super dan merendahkan martabat profesi guru. Pertama pastikan setiap guru sayang anak didik, apa pun kelakuan anak. Ini dasar mental relasi guru-anak.
Kedua, hindari pendekatan disiplin fisik dan phisikis yang melukai perasaan dan fisik anak. Lakukan pendekatan disiplin yang wajar dan lebih edukatif. Anak adalah anak, sulit disalahkan sekalipun faktanya salah.
Ketiga, pastikan setiap guru punya kedekatan dan disenangi anak didik. Anak didik dan guru harus harmoni, apapun dinamikanya. Anak mesti diperlakukan secara diferensiatif, sekali pun memerintahkan sholat.
Orangtua lebay dan guru lebay, dua hal yang merugikan anak didik. Sejatinya orangtua menghormati guru, guru menghormati anak didik. Guru dan orangtua adalah “pelayan” anak.











