Lagi-Lagi Banjir Kabupaten Bandung Terendam Butuh Solusi Komprehensif

0
159

Oleh : Aan Amanahtia ( Ibu Rumah Tangga)

Sebagaimana kita ketahui, banjir kembali melanda disebagian kabupaten Bandung. BMKG pun mengeluarkan peringatan akan terjadinya cuaca ekstrem di sejumlah kabupaten. Di kecamatan Dayeuh kolot, Bojong Soang, Soreang, kerta waringin, Ciwedey, Cangkuang, Kertasari, ratusan warga dari ketujuh kecamatan mengungsi karena terdampak banjir. Banjir kali ini parah dari sebelumnya.

Dengan demikian, banjir merupakan bencana Alam yang sering terjadi di Indonesia menurut badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPPB). Pada 2022 lalu, BNPB mencatat jumlah kejadian banjir terjadi sebanyak 854 kali. Kondisi ini serupa dengan tahun-tahun sebelumnya. Curah hujan yang tinggi dengan kondisi cuaca yang ekstrem. Dianggap sebagai penyebab banjir.

Benarkah banjir terjadi semata karena curah hujan? Atau ada kajian lain terkait penyebab banjir? Bagaimana Islam memberi solusi agar banjir tidak terus berulang.

Penyebab banjir tidak bersifat tunggal, demikian pula penanganany. Meski curah hujan akibat perubahan iklim selalu dituding sebagai penyebab banjir utama, tetapi kajian penyebab banjir dapat melebar ke berbagai aspek.

Kondisi ini meningkatkan jumlah air atmosfer sehingga curah hujan meningkat. Saat curah hujan besar dengan intensitas padat turun tanpa adanya lahan yang menampung debit air tersebut, jelas akan meluap dan mengakibatkan banjir.

Di sisi lsin, alih pungsi lahan karena pembangunan masif dan tidak memperhitungkan dampak lingkungan, membuat debut air tidak tertampung secara normal. Sampah-sampah yang menumpuk pun turut memperparah kondisi ini. Walhasil, banjir pun tidak terelakan.

Dengan demikian, sangat jelas berapa pembangunan yang katanya “ramah lingkungan” Ini malah bersipat eksklusif. Perumahan elite yang bebas banjir dengan fasilitas publik yang mereka sebut ramah lingkungan justru berdampak pada rusaknya lahan penduduk disekitarnya. Bisa jadi banjir tidak melanda hunian elite itu, tetapi daerah sekitarnyalah yang terdampak buah dari ambisi mewujudkan ” perumahan bebas banjir”.

Hunian ramah lingkungan kini pun semacam privilese yang hanya terjangkau golongan elite, sedangkan masyarakat berpenghasilan rendah harus puas bertaruh di kawasan rawan banjir atau terdampak banjir.

Pembangunan kapitalistik bukanlah spirit pembangunan dalam Islam. Negara tidak akan melakukan alih fungsi lahan dan memenuhi kepentingan segelintir orang demi meraih pertumbuhan ekonomi, Dalam membangun, negara harus mempertimbangkan prinsip-prinsip pengelolaan lahan yang bersipat universal.

Sebaiknya, bencana terjadi saat keseimbangan alam terganggu oleh aktivitas manusia. Allah swt. Berfirman,
“Telah tampak kerusakan di darat dan dilautan akibat perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.
(QS Ar-Rum:41).

Dengan demikian, tentunya ada pemukiman penduduk di wilayah pesisir. Untuk itu, negara akan memetakan daerah-daerah rendah yang rawan terdampak banjir rob atau kapasitas serapan tanah yang minum. Negara akan merumuskan kebijakan khusus bagi masyarakat di wilayah tersebut dan membuat skenario agar penduduk setempat tetap dapat mengakses kebutuhan air secara normal, entah dengan membangun sumur, entah dengan membangun sumur, penampungan air, atau sejenisnya,

Mengedepankan pembangunan yang ramah lingkungan tentu menjadi visi dalam model pemerintahan Islam. Syariah Islam yang pernah hadir dalam sejarah peradaban telah membuktikan visi tersebut.

Masa bisa saja berubah. Teknologi pun akan terus maju dengan segala kreativitas manusia. Hanya saja, spirit pembangunan Islam yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan hanya pemimpin Islam dalam Islam dalam sistem peradaban Islam. Inilah solusi komprehensif sekaligus skenario sistem dalam mengentaskan permasalahan banjir pada era kapitalistik saat ini.

Wallahu’alam bishawaab.