Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Ungkapan bijak mengatakan, “Syarat berkumpul suatu hal harus sejenis”. Ungkapan lainnya mengatakan, “Burung sejenis hinggap di dahan yang sama”.
Orang soleh berkumpul dengan orang soleh, sumbu panjang dengan sumbu panjang, sumbu pendek dengan sumbu pendek. Bahkan orang sakit hati punya barisannya sendiri.
Termasuk hal politik dan kepemimpinan. Sang Pemimpin akan punya jama’ahnya sendiri. Presiden RI pertama sampai dengan Presiden RI yang terkini punya pengagumnya sendiri.
Plus pembencinya. Ada yang membenci Presiden RI pertama sampai Presiden RI yang sekarang. Itulah dinamika jama’ah kerakyatan Indonesia.
Paling menarik dari semua Presiden RI adalah yang sa’at ini berkuasa. Tentu saja sosok Presiden RI hari ini sangat banyak kekurangan dan kelebihannya.
Kekurangannya sebagai manusia biasa. Kelebihannya, jelas sudah Ia terpilih sebagai Presiden RI dua periode. Bahkan Ia adalah Presiden RI yang paling banyak direndahhinakan.
Termasuk sa’at ini Ia pun dianggap “bahaya” bagi lawan lawan politiknya. Awalnya Ia distigma sebagai planga plongo, tak pantas menjadi Presiden RI.
Namun faktanya, begitu banyak hal yang Ia lakukan membuat ketar ketir lawan politik. Asasinasi pada dirinya bermunculan dari berbagai kalangan.
Mulai dari sebutan Fir’aun, ijazah palsu, keturunan PKI, antek China, sakit jiwa, dan julukan buruk lainnya. Disisi lain jutaan pengagumnya masih tetap menghormati.
Sebagai pendidik, sa’at gambar Presiden RI ada di semua ruang kelas dan kantor di negeri ini, alangkah tak eloknya bila terlibat menghujat.
Budaya pendidikan sejatinya afirmatif, apresiasi dan tetap kritis edukatif. Dunia pendidikan adalah dunia edukasi bukan dunia provokasi, apalagi politik identitas.
Dunia pendidikan adalah dunia perspektif konstruktif, bukan destruktif provokatif. Dunia pendidikan bukan dunia menebarkan aib, tetapi menebarkan pemaknaan dari dinamika yang berkembang.
Sebagai pendidik, tulisan Saya lebih banyak mencitra positifkan Sang Presiden RI. Bahkan sa’at mengajar di ruang kelas, Saya lebih banyak menjelaskan unikasi dan keunggulan Sang Presiden RI.
Presiden RI sa’at ini, terutama menuju tanggal 14 Februari akan terus “dihantam”. Mengapa? Karena Ia “terlibat” lebih dalam pada endorse capres cawapres.
Endorse pada satu pasangan capres dari Presiden RI sangat “bahaya” bagi lawan politik. Disisi lain sangat menguntungkan bagi capres yang diendorse.
Pembusukan karakter, wacana pemakhzulan adalah bagian dari upaya politik atas “kelemahan” Presiden RI yang mengemuka. Namun nampaknya, sekali lagi, nampakya pengagum Presiden RI masih sangat kuat.
Saat Bung Karno lengser Ia tidak mengendorse Suharto. Sa’at Suharto lengser Ia pun tidak mengendorse Habibie. Saat Habibie lengser Ia pun tidak mengedorse Gus Dur. Gus Dur tidak mengedorse Megawati. Megawati tidak mengendorse SBY.
Kini Jokowi terlihat mengendose satu pasangan capres. Ini sangat menyeramkan. Mengapa menyeramkan? Karena dapat menjadi bagian menentukan kemenangan pasangan capres.
