Narasi Narasi Mencerahkan

0

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Selalu ada kata, atau narasi yang memberikan sebuah gairah berpikir dari orang orang tertentu. Termasuk apa yang disampaikan Abu Marlo, mantan magician dan kini ubah haluan menjadi penceramah dan penelaah keagamaan.

Ia mengatakan bahwa persistensi dan konsistensi dalam melakukan hal hal positif sangatlah penting. Perjuangan tiada henti dalam sebuah kebaikan untuk menciptakan kebaikan sangatlah layak diperjuangkan dan dipertahankan.

Karang tetap berdiri tegak sekalipun dihancurkan ombak setiap detik. Persistensi, konsistensi, tetap teguh mempertahankan sebuah tujuan dan mimpi mulia layak dipertahankan. Teguh bagiakan karang, adalah penting.

Abu Marlo mengatakan sebagaimana KH Syaiful Karim katakan yakni, manusia itu sebenarnya mahkluk cahaya. Ia harus bercahaya bagi sesama dan alam semesta. Jangan menebar kegelapan dan dinamika negatif.

Manusia adalah ruh yang diberi tubuh. Bukan tubuh yang diberi ruh. Artinya tubuh hanyalah cangkang, kulit atau chasing. Hal utama dari diri kita bukan fisik melainkan ruh dan spiritualitasnya.

Manusia sebagai makhluk istimewa punya banyak jalan menuju Surga. Label, pilihan agama dan spiritualitas hanyalah jembatan. Jembatan menuju suatu lokus istimewa pada Tuhannya. Tuhan adalah “muara” kita.

Semua air akan mengalir ke muara lautan. Manusia pun akan “mengalir” ke muara Ilahi. Tempat berasal dan kembalinya pada asal. Selama manusia bertuhan dan selalu berniat baik, bermanfaat bagi sesama dan semseta, maka Ia punya nilai kemuliaan yang luar biasa.

Ritualitas, disiplinitas dalam beragama adalah sebuah cara menuju kesadaran terbaik. Kesadaran lah yang membedakan manusia sadar dengan manusia tak sadar. Sadar tahu segala, tak sadar lupa segala, bahkan Tuhan pun bisa terlupakan.

Manusia bagi Abu Marlo dan KH Syaiful Karim harus mampu menerima realitas. Penerimaan terhadap realitas (apa pun) adalah sebuah tanggung jawab nilai kemanusiaan kita sebagai hamba. Semua realitas adalah kuasa Ilahi, terima dan sadari.

Narasi narasi mencerahkan dari Abu Marlo, KH Syaiful Karim, KH Buya Syakur dan Guru Gembul adalah sebuah narasi narasi yang positif walau kadang “konfrontatif” dengan realitas pemikiran publik.

Orang yang berproses, sedang belajar boleh salah dan tersesat. Salah dan tersesatnya orang belajar karena kebodohannya sebagai manusia dalam mencari kebenaran, sah sah saja. Sesat yang sebenarnya adalah “membebek” pada perspektif yang tidak dinalar.