Tentang Kemelekatan

0

Oleh : Dudung Nurullah Koswara (Praktisi Pendidikan)

Sejumlah orang selalu berpikir dan bermimpi “Kelak kalau di Surga bertemu anak, istri dan orangtua”. Mereka, kita semua selalu melekat pada hal hal yang sangat kita cintai.

Anak, istri/suami, orangtua dan orang orang yang kita cintai melekat dengan diri kita. Itulah realitas kemelekatan yang manusiawi dalam diri manusia. Manusia adalah makhluk melekat.

Menurut KH Syaiful Karim, walau manusiawi kemelekatan pada anak, istri, orangtua dan hal lainnya selain Tuhan adalah hal yang tak positif. Hal positif hanya melekat pada Allah saja.

Mari kita lepaskan “kemelekatan” pada anak, istri, orangtua dan hal duniawi lainnya. Kecuali hanya melekat pada Allah, yang maha segala maha. Ia Khalik bukan makhluk.

Kemelakatan atau melekat pada makhluk, selain Allah adalah tidak positif. Fisik kita lah yang “menyukai” kemelekatan. Spiritualitas kita, ruh kita melekatnya hanya pada Allah saja. Sejatinya demikian.

Manusia adalah makhluk yang nilai ruhnya lebih utama dari nilai fisiknya. Manusia bukan badan yang diberi ruh, melainkan ruh yang diberi badan. Badan kembali ke tanah, ruh kembali pada asalnya, Allah.

Mari belajar melepaskan kemelekatan pada kemakhlukan dan mulai mendekat pada ke Khalik an. Mari menjadi pribadi yang kualitasnya meng Khalik, tidak me makhluk.

Kita adalah ruh yang melekat pada ruh (Allah), bukan hanya pada badan dan kemakhlukan. Hindari melekat pada “tanah” tapi melekatlah pada pencipta tanah.