Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Ada sejumlah pepatah bijak yang layak kita maknai. Diantaranya berpepatah “Ekor itu mengikuti kepala”. Ya, faktanya badan dan ekor akan mengikuti gerakan kepala. Kepala kemana pun, ekor akan mengikuti.
Makna dari ungkapan di atas bila kita cermati dan kait narasikan dengan sikon Pilpres tahun 2024, bisa tersambung. Sunggguh kubu politik 01, 02 dan 03 punya unikasi, semangat dan keyakinan masing masing untuk sukses.
Harapan, keyakinan, mimpi dan militansi dari masing masing kubu adalah realitas politik yang harus kita terima. KH Syaiful Karim mengatakan, “Semua realitas yang ada adalah benar adanya”. Benar adanya keberadaan yang berlawanan atau beragam.
Allah, Tuhan Yang Maha Esa telah menghadirkan sebuah realitas tiga pasangan tokoh terpilih dalam kontestasi Pilpres tahun 2024. Ketiga tokoh pasangan terpilih ini punya jamaah dan partai politiknya sendiri.
Hal yang harus menjadi perhatian ke depan pasca Pilpres adalah membangun kolaborasi setelah kontestasi. Terutama kolaborasi yang akan berdampak pada sikon positif di ruang publik demi kebangsaan.
Mengapa tidak “Pola Jokowi” terkait merangkul lawan politik sebagai kawan berjuang demi bangsa. Prabowo oleh Jokowi dijadikan Menhan, Sandiaga Uno dijadikan menteri juga. Plus sejumlah tokoh lainnya.
Bila Anies, Prabowo atau Ganjar jadi RI 1, mengapa tidak? Ketiga pasangan Capres, Cawapres kolaboratif dalam pemerintahan demi bangsa. Lupakan kisah kontestasi, sambut kolaborasi. Dua pasangan yang akan kalah di 14 Februari 2024, rangkul dan manfaatkan untuk bangsa.
Demi bangsa dan negara, kolaborasi “mantan” lawan politik dengan pemenang politik, mengapa tidak ? Bila kita kaitkan dengan judul di atas, kesemuanya demi “ekor”. Ekor akan mengikuti kepala. Ekor itu adalah rakyat kita.
Rakyat kita yang “terbelah” secara politik, emosional dan militansi, akan lebih kondusif dengan menyatukan “Tiga Kepala” dalam satu wadah kolaborasi di pemerintahan. Jangan ada gengsi atau malu, demi bangsa. Siapa pun yang terpilih sebagai Presiden RI, layak dihormati dan didukung, sekali pun meminta para lawan politiknya bergabung.
Ekor mengikuti kepala. Semoga rakyat kita (ekor) akan mengikuti kepala (para pemimpin) yang kolaboratif dan harmoni. Bergabungnya Capres yang kalah (Prabowo) dengan Capres yang unggul (Jokowi) di pemerintahan memberi efek adem dan berhentinya kegaduhan politik di level ekor.
Sahabat pembaca mari kita doakan, ketiga pasangan Capres hebat tahun 2024, tetap menjadi bagian dari kebangkitan dan kemajuan bangsa. Mereka yang terbaik, harus disatukan dalam wadah kolaborasi, demi bangsa.
Nabi Muhammad SAW, sekali pun Ia seorang nabi, tetap tak bisa berbuat apa apa tanpa sahabat. Tidak ada satu pun manusia dan makhluk di dunia ini yang bisa sukses tanpa kolaborasi dan bantuan pihak lain.
Apalagi hanya sosok Anies, Prabowo dan Ganjar, ketiganya adalah manusia yang sangat membutuhkan dukungan semua pihak. Terutama rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia sebagai “ekor politik” akan sangat tergantung kepala/pemimpin. Politik adalah seni, seni mengatur dan memanfaatkan semua potensi publik untuk kesejahteraan bersama.
Seorang pemimpin hebat berkata, “Aku tidak akan tidur sebelum rakyat ku tertidur, aku akan bangun sebelum rakyat ku terbangun, aku akan makan setelah rakyat ku makan, aku akan bahagia setelah rakyat ku bahagia”. Rakyat/ekor adalah prioritas layanan politik.
Rakyat Indonesia tak terbelah, tidak saling hujat dan nyinyir pada pemimpin terpilih, bisa diminimalisir dengan menyatukan semua pasangan Capres yang kalah dalam pemerintahan. Ingat, kaki kiri dan kanan itu tak sama, tapi berjalan bersama ke mana pun.
Rakyat jadikan prioritas dan pusat “berhamba” bukan Ketum Partai dan partai politik. Partai politik dan Ketum Partai hadir karena adanya rakyat, rakyatlah yang utama. Tanpa rakyat, partai politik dan Ketum Partai, tiada. Kedaulatan ada di tangan rakyat.
Satu lagi, jangan aduk aduk perasaan rakyat dengan mempermaikan agama dalam politik. Jelas dalam sejarah politik di mana pun, agama selalu menjadi “korban” politisasi. Demi kekuasan dan politik, agama dijadikan alat membohongi, membodohi dan mendungui rakyat.
Dalam ketatanegaraan semua agama berada di bawah konstitusi sebuah negara. Agama apa pun harus “manut” pada konstitusi. Dalam keyakinan pemeluk agama, konstitusi berada di bawah agama. Konstitusi wajib “manut” pada agama.
Faktanya ? Agama, konstitusi harus “manut” pada kebaikan kehidupan manusia. Mengapa ? Karena agama dan konstitusi hadir untuk kebaikan manusia, bukan manusia untuk agama dan konstitusi.
Sebagai kunci kesuksesan, dalam menjalankan amanah politik adalah pentingnya akhlak. Jadikan pembelajaran kisah kisah masa lalu yang penuh konflik politik/kekuasaan agar ada pencerahan. Ekor mengikuti kepala, daulat rakyat terkait daulat para pemimpin.











