Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Saya adalah sarjana sejarah. Ada sisi sisi futurologi dan kadang cocokologi. Namanya juga narasi dan prediksi, tentu tidak harus 100 persen sesuai presisi. Wala pun sampai saat ini, apa yang Saya tulis cenderung menuju/menjadi fakta.
Bila ada nama Philip K. Hiti, Alvin Tofler, Kishore Mahbubani, Prancis Fukuyama, Kenichi Ohmae, Yuval Noah Harari, mereka identik sejarawan yang futurologi. Sebagai contoh, dua kali Saya tulis dan prediksi bahwa sosok Jokowi akan ungggul di Pilpres 2014 dan Pilpres 2019.
Kini Saya pun memprediksi Jokowi tidak akan mau menjadi ketua umum partai politik. Ia akan mempersilahkan siapa pun untuk menjadi para pemimpin politik dan lainnya, termasuk pada generasi di keluarganya.
Ia dalam bahasa familier akan kembali ke Solo. Kembali ke Solo adalah hal keren yang bisa Ia lakukan. Jangan masuk di struktur partai politik. Ia kembali ke solo sebagai orang “sakti”. Orang sakti karena pengalaman hidupnya yang luar biasa.
Ia bisa menjadi “narasumber” bagi siapa pun. Ia sebaiknya menjadi tokoh nasional yang tidak terlalu fokus pada kelompok tertentu, kecuali pada kelompok kebangsaan dan ke-Indonesiaan, demi bangsa.
Ia pun harus menjadi bapak/ayah/kakek terbaik bagi keluarganya. Tentu saja Ia akan menjadi mentor bagi Gibran, Boby, Kaesang, sebuah tuntutan bagi siapa pun yang menjadi orangtua. Hak dirinya untuk menopang keturunannya menjadi orang sukses di negeri ini.
Demo, memakhjulkan, penghinaan dan dinamika apa pun terkait Jokowi, tidak akan ngaruh. Ia akan “selamat” sampai masa jabatannya habis. Ia akan menjadi salah satu presiden RI yang kontroversial dan fenomenal sampai masa pensiunnya.
Bahkan bisa jadi, saat Ia sudah menjadi orang biasa, sejumlah entitas akan mendiskusikannya dan mungkin merindukan unikasinya. Terutama para pecinta dan pengagumnya, Ia adalah legended.
Jokowi akan tetap identik dengan wong cilik, planga plongo, Fir’aun, PKI dan sejumlah stigmatik lainnya. Namun Ia akan tercatat dalam sejarah sebagai Presiden RI ke 7 yang sampai akhir jabatannya selesai. Plus ikatannya dengan IKN. Ia akan menjadi satu satunya Presiden RI yang identik pemindahkan ibu kota.
Jokowi tentu saja banyak kekurangan dan salah. Namun, apa pun Ia tetap pernah menjadi orang no 1 di Indonesia dalam dua periode. Tiga puluh tahun kemudian, kisahnya akan lebih objektif didiskusikan.














