Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Saat membuka Tiktok, melintas narasi dari Guru Gembul yang mengatakan bahwa lebih dari 70 persen orangtua tidak layak menjadi orangtua. L Benarkah realitas ini ?
Ia pun mengatakan bahwa orangtua adalah pelaku bullying pada anak anaknya. Kalau kita mau jujur akan banyak anak yang merasa sadar hari ini saat dewasadulu pernah dididik dengan disiplin negatif.
Bila kita saat ini mengenali disiplin positif maka disiplin negatif dahulu banyak dilakukan orangtua. Bila anak melakukan kesalahan dianggap salah. Padahal anak melakukan kesalahan adalah proses belajar.
Anak anak kita memiliki masa depan suram terkait dengan gaya mendidik kedua orangtua. Bahkan bukankah ada anak anak yang menjadi perempuan padahal Ia pria, atau menjadi pria padahal Ia wanita.
Situasi keluarga, gaya mendidik orangtua dan keadaan ekonomi keluarga bisa menjadi variabel pembentuk akan bagaimana anak di masa depan. Orangtua adalah pembentuk awal mental anak.
Bisa dibayangkan bila orangtua pemalas, miskin, tidak berpendidikan, sumbu pendek dan reaktif, apa yang akan terjadi dengan anak? Pasti anak akan lahir dan membesar bermasalah.
Lebih parah lagi, para orangtua berpendidikan tinggi pun salah mendidik anak. Pendekatan kekerasan psikologis dan fisik untuk mendidik anak. Ini sebuah pendekatan yang sangat tidak positif.
Ketidakmampuan mendidik anak karena kurang waktu, kurang ekonomi, kurang wawasan, kurang sabar, kurang sadar akan memberi dampak buruk bagi masa depan anak.
Ungkapan bijak mengatakan, “Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan”. Ia akan tumbuh lebih baik dan menebarkan kasih sayang.
Beda lagi dengan ungkapan “Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki”. Anak yang tumbuh kembang dengan menebar kasih sayang dan memaki adalah dua realitas berbeda.
Kritik pedas bahwa mayoritas orangtua gagal didik anak adalah fakta tak terbantahkan. Hampir semua orangtua bisa jadi pikiran dan pendekatannya tua, konservatif dan tak sesuai tuntutan masa depan anak.
Menarik pernyataan KH Syaiful Karim yang mengatakan bahwa Allah, Tuhan yang maha esa, punya design pada setiap anak. Orangtua dan kita semua jangan “bertentangan” dengan design_Nya, agar anak sukses.
Orangtua jangan memaksakan kehendaknya, keinginanya dan menjadikan anak sebagaimana keinginan orangtua. Padahal Allah, Tuhan yang maha esa Sang Pemiliknya punya design terbaik bagi anak kita.
Kebanyakan orangtua merasa pemilik Sang Anak. Padahal secara spiritual pemilik anak adalah Allah, Tuhan yang maha esa. Secara futuristik, anak adalah milik masa depannya, bukan orangtuanya.
Ketaksadaran orangtua dalam mendidik anak dan pengetahuan yang rendah dalam mendidik anak, akan “merendahkan” masa depan anak kelak. Tidak sedikit orangtua yang mendidik anaknya rendah diri, bukan rendah hati.
Mengapa tidak ? Katakan pada anak, “Kamu ciptaan Allah, kamu bisa jadi apa pun, menjadi Presiden sekali pun, asal kamu terus belajar dan belajar, yakin pada kuasa Tuhan”. “Kamu lahir dari kami, tapi kamu dalam kuasa Tuhan”.
Hema Hujaemah, seorang ibu rumah tangga dan pendidik mengatakan, “Melahirkan anak itu memang merobek rahim, memuncratkan darah, setengah mati, namun mendidiknya jauh lebih berat, mati matian kita mendidiknya”.
Mendidik jauh lebih berat dari melahirkan. Faktanya, binatang pun melahirkan anaknya. Hal terberat adalah mendidiknya. Salah didik bisa menjadi sumber masalah di masa depan. Musibah terbesar dari orangtua adalah anak gagal menjadi pribadi berkarakter, tak berakhlak.
Sunggguh indah bila setiap anak hidupnya lebih baik dari kedua orangtuanya. Hidup penuh cinta, mampu memberi manfaat pada sesama dan semesta. Hamdallah, sukses tiada tara.











