OPINI/Artikel

Menolak Ke Tanah Suci

adminsigiku.com
×

Menolak Ke Tanah Suci

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Mengenang kembali adik kakak yang sudah berangkat ke tanah suci. Ia adalah Hj. Nonoh dan ibu ku sendiri. Beliau adalah adik kakak yang saling mencintai, saling support dalam berbagai hal.

Tak lama setelah Hj. Nonoh meninggal, ibu ku pun meninggal, seolah sudah “janjian” bahwa, “Kalau kamu atau aku meninggal duluan, aku pun akan mengikuti mu”. Bagaikan demikian.

Hamdallah ibu ku berangkat ke tanah suci sekitar 15 tahun lalu. Beliau berangkat karena hamdallah Saya yang memberikan biaya. Bahkan biaya berangkat ke tanah suci, Saya samakan dengan mertua.

Belasan tahun lalu Saya mengeluarkan anggaran dua orangtua (ibu ku dan mertua ku) untuk ke tanah suci. Rezeki bagi keduanya melalui anak nya. Saya percaya itu rezeki mereka.

Kembali ke besti adik kakak di atas Hj. Nonoh dan ibu ku. Selain bestian, ada hal menarik. Apa yang menarik? Mereka berdua “menolak” untuk dua kali berangkat ke tanah suci.

Saya tawarkan pada ibu ku, “Apakah Emak mau ke tanah suci lagi, akan Saya siapakan?”. Ia menjawab,” Gak usah ujang (nak)”. Jawaban ibu ku, sama dengan Hj. Nonoh yang sama sama cukup satu kali ke tanah suci.

Mereka seperti bersepakat untuk cukup satu kali beribadah berangkat ke tanah suci. Padahal Saya menawarkan ulang pada ibu ku. Saya berpikir, ibu ku sama dengan yang lain, ingin lebih dari satu kali.

Entah apa alasan Hj. Nonoh dan ibu ku “menolak” lebih dari satu kali ke tanah suci. Hanya mereka berdua yang tahu. Saya pastikan mereka tidak membaca pendapat almarhum, Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub (imam besar Istiqlal) terkait ibadah ke tanah suci.

Saya menduga “adik kakak” ini tidak membaca https://news.detik.com/berita/d-3198676/kh-ali-mustafa-yaqub-dan-kritik-haji-pengabdi-setan. Mungkin keduanya punya prinsip sendiri. Tanpa pengaruh eksternal.

Bisa jadi ini dugaan Saya berangkat sekali saja implementasinya berat. Mabruritasnya berat, apalagi bila berkali kali. Mungkin mereka malu pada diri dan publik, bahwa keduanya belum menjadi pribadi yang baik.

Bisa jadi bagi mereka berdua, mengutamakan refleksi diri dan menghisab diri dan memberi peran di kampung halaman lebih utama daripada berangkat lagi. Walau ada yang membiayai.

Tulisan ini mengingatkan ku pada khususnya ibu ku. Terimakasih atas pembelajarannya, Surga terbaik bagi ibu ku tercinta dan semua orangtua kita yang telah tiada.