Oleh : Nia Umma Zhafran
Dilansir dari Visi.News pada hari Selasa (5/3/2024), Bupati Bandung Dr. H Dadang Supriatna, S.IP, M.Si., dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) Kabupaten Bandung H. Teguh Purwayadi., S.STP, M.Si., melaksanakan Sosialisasi dan Pembekalan Peserta Duta Baca Remaja 2024 di Hotel Citere, Pangalengan. Kepala Dispusip mengatakan bahwa duta baca tidak hanya harus dapat memahami literasi, tetapi juga harus mampu mengetahui sejarah dan seluk beluk kondisi sosial masyarakat Kab. Bandung, mampu menjadi ujung tombak dalam meresonansi kegiatan literasi dalam masyarakat dan duta baca harus paham dan menguasai digitalisasi dalam menunjang penyebaran literasi untuk kesejahteraan. Harapan dengan hadirnya Duta Baca Remaja Kabupaten Bandung tahun 2024 dapat menjadi salah satu jembatan untuk menuju Indonesia emas 2045.
Syarat pemilihan duta baca ini diperuntukkan bagi Gen Z usia 18 – 21 tahun. Mereka bertugas mengkampanyekan, mengedukasi dan mengajak masyarakat luas agar terlibat aktif dalam kegiatan literasi. Literasi sendiri yaitu kemampuan dalam menulis, membaca, berbicara, menghitung hingga kemampuan untuk memecahkan masalah. Jadi, dunia literasi berkaitan erat dengan dunia pendidikan. Hal ini yang menjadikan penting sekali untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. Lantas, apa kabar literasi Gen Z terutama di kalangan pelajar?
Menurut data UNESCO, minat baca pelajar Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 %. Artinya dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Dari survei 3 tahunan BPS mencatat bahwa tingkat minat baca anak Indonesia hanya 17,66%, sedangkan minat menonton mencapai 91,67%. Hal ini yang mendorong pemerintah dan pegiat pendidikan untuk mengampanyekan pentingnya literasi. Selaras dengan visi Indonesia untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 mendatang. Tantangan negeri inilah yang harus membentuk generasi muda yang memiliki keterampilan berpikir yang kritis, kreatif, juga mampu berkomunikasi dengan efektif. Karakter tersebut bisa diwujudkan dengan meningkatkan kemampuan literasi. Mampukah melalui duta baca remaja terwujud dalam sistem pendidikan saat ini?
Hasil yang buruk tidak akan lepas dari proses belajar yang buruk. Bukan hanya semangatnya saja yang harus di evaluasi. Penyebab timbulnya rasa tidak semangat juga harus ditelusuri akar permasalahannya. Para pelajar hanya hadir saat kelas, dan setelah kelas ilmu seperti tidak berbekas. Mirisnya, pas tiba waktu ujian, pelajar sibuk mencari cara supaya bisa dapat nilai bagus dengan cara yang instan. Ada satu hal yang tidak boleh kita abaikan terkait literasi digital ini, terlebih jika soal capaian cuan. Ketika literasi digital dibarengi dengan tujuan mencari cuan dalam konteks kapitalisme, ini hanya akan menjadikan generasi muda menjadi generasi instan juga.
Pendekatan pengajaran juga perlu dievaluasi. Apalagi tujuan pembelajaran bagi pelajar harus ditanamkan sejak awal bahwa mempelajari ilmu adalah bentuk kewajiban dan pahala. Pendidikan yang diterapkan dalam sistem Kapitalisme saat ini berorientasi uang. Seperti pedagang dan pembeli. Ada uang ada kualitas. Pandangan Hidup Kapitalisme menganggap hidup di dunia untuk mencari keuntungan materi sebesar-besarnya. Biasanya kapitalisme ini akrab dengan asasnya, yakni asas sekuler. Dimana sekuler memisahkan agama dari kehidupan .
Gara-gara paradigma yang salah tentang hidup ini negara melepaskan tanggung jawab untuk memberikan pendidikan sebaik-baiknya ke generasi muda. Pendidikan dikomersialisasi, kurikulumnya digonta ganti sesuai pesanan korporasi. Dan proses pembelajarannya hanya sekedar transfer Ilmu saja. Tidak ada proses pembentukan kepribadian Islam. Sehingga output generasi yang dihasilkan adalah generasi muda yang juga mengejar uang agar balik modal istilahnya. Sekolah mahal harus sebanding dengan kerjaan yang bergengsi dengan gaji yang tinggi. Kebanyakan berakibat pada malas belajar, hanya mengejar nilai tanpa paham esensi ilmu yang hakiki. Setelah lulus generasi yang seharusnya memajukan peradaban ini, malah menjadi budak korporasi. Karena tujuan awalnya mereka mencari ilmu itu untuk mempertebal kantong sendiri.
Terkait literasi, tidak kita pungkiri bahwa tingkat literasi di Indonesia memang sangat rendah padahal mayoritas penduduk negeri ini adalah beragama Islam. Karena ajaran Islam sendiri sejak lama mendorong umatnya untuk membudayakan literasi. Tidak lepas dari sejarahnya turunnya Al-Qur’an dimana wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah ayat dengan bunyi ‘iqro’ yang memerintahkan untuk membaca. Karena membaca adalah pintu gerbang bagi masuknya berbagai ilmu pengetahuan.
Ilmu diwajibkan sejak seorang manusia masih dalam buaian hingga meninggal dunia. Dengan ilmu yang dimilikinya, mereka diharapkan dapat menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi yang lain. Kebaikannya akan terus mengalir, baik di dunia maupun di akhirat. Allah swt menegaskan dalam firman-Nya, dimana orang yang beriman dan berilmu akan diangkat derajatnya.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (TQS Al-Mujadillah: 11)
Setelah Al-Qur’an turun tradisi membaca dan menulis ini mulai tumbuh dikalangan umat Islam. Banyak dari kalangan kaum muslimin yang mulai menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai media seperti kulit kayu, batu, tulang, dll. Budaya literasi ini terpupuk dengan baik pula pada kepemimpinan para sahabat. Sejatinya literasi ini merupakan faktor penting yang mengantarkan umat Islam dalam mencapai puncak kejayaannya. Terbukti selama 13 abad, Islam menjadi mercusuarnya dunia. Contoh pada masa kekhalifahan abbasiyah yang banyak melahirkan para ilmuwan muslim dalam berbagai bidang. Belum lagi perpustakaan-perpustakaan besar menjadi simbol tingginya literasi umat saat itu. Tentunya dengan penerapan Islam secara kaffah oleh negara. Sejarah Peradaban Islam adalah peradaban yang tidak bisa dilepaskan dari budaya literasi. Literasi sendiri menjadi api menyala peradaban dengan adanya perpustakaan sebagai dapur pacu peradaban.
Tapi saat ini kita lihat umat Islam yang semakin sekuler dan menjauhi ajarannya, malah kalap dengan kenyamanan yang ada di dunia sekuler- kapitalis sekarang. Justru menghilangkan jati dirinya untuk menghidupkan kembali tradisi pengetahuan. Umat Islam kehilangan semangat dalam membaca, berdiskusi dan menulis yang justru hari ini tumbuh di bangsa-bangsa selain Islam. Dan kini umat Islam justru berkiblat kepada Barat. Tentu ini sesuatu yang sangat memprihatinkan.
Semangat literasi dan mencintai ilmu pengetahuan ini harus ditumbuhkan lewat penanaman akidah Islam. Bukan sekedar pendidikan yang berbasis sekuler, justru harus menguatkan akidah Islamiyah pada remaja. Niscaya semangat budaya literasi itu bisa tumbuh kembali. Hingga terwujudnya generasi unggul. Pendidikan saat ini yang berbasis sekuler yang digembor-gemborkan hanya menitik beratkan pada kekuatan kognitif dan skill yang berlandaskan pada sistem sekuler. Dimana pelajar itu tidak ditargetkan untuk memiliki sikap perilaku yang disesuaikan dengan ajaran agamanya.
Maka keunggulan yang akan dicapai jika begitu adalah keunggulan yang semu. Yang sifatnya hanya materi dan jauh dari nilai-nilai Islam. Semetara keunggulan yang hakiki itu hanya dengan menerapkan sistem pendidikan Islam yang bertujuan membangun kepribadian generasi dengan pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan akidah Islam. Maka, penerapan sistem pendidikan Islam dalam sistem Islam, InsyaAllah menjadikan Indonesia menjadikan negara yang maju dan berdaya saing tinggi. Sebagaimana kemajuan peradaban Islam dimasa lalu. Adanya duta baca remaja tanpa adanya kepribadian islam serta penerapan sistem Islam hanyalah solusi pragmatis.
WalLaahu ‘alam bish-showwab
