Oleh : Yuni Irawati (Ibu Rumah Tangga)
Jagad Maya hari ini senantiasa dihiasi oleh berita-berita kekerasan dengan penganiayaan yang berakhir pembunuhan. Seperti peristiwa kekerasan yang diunggah oleh salah satu akun Instagram berupa pengeroyokan seorang pemuda oleh sekelompok pemuda di wilayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Diketahui aksi pengeroyokan tersebut terekam CCTV yang kemudian video tersebut ramai di Instagram.
Penganiayaan dilakukan di jalan dekat pintu perlintasan rel kereta api dengan cara dipukuli hingga korban merasa tak berdaya. Kejadian tersebut dibenarkan oleh Kapolsek Cicalengka dan aksi pengeroyokan terjadi pada hari minggu (2/6/2024). dan pengeroyokan terjadi diduga berawal dari saling tantang antara pelaku dan korban. Pihak berwajib pun melakukan penyelidikan atas aksi pengeroyokan tersebut dan saat ini para pelaku tengah dalam proses pengejaran.
Berbagai peristiwa penganiayaan kerap terjadi dan seolah tak kunjung berhenti. Baik penganiayaan berupa pengeroyokan, saling adu kekuatan hingga berakhir dengan pembunuhan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Akan tetapi sungguh miris dirasa sebab masyarakat bahkan negara seakan memaklumi kejadian atau peristiwa berbagai kekerasan tersebut. Alhasil aksi-aksi seperti peristiwa tersebut diatas kerap ditiru oleh masyarakat terutama generasi remaja hari ini.
Tentu hal tersebut membuat perilaku remaja jauh dari kata baik.
Masalah pengeroyokan ini tidaklah sederhana, melainkan bersifat sistematis, artinya segala peristiwa yang terjadi hari ini tidak terjadi begitu saja tapi disebabkan oleh rusaknya aturan yang diterapkan oleh negara.
Kita tidak bisa menyalahkan individu semata tapi juga peran masyarakat masyarakat dan negara menjadi penyebab kerusakan ini.
Kita ketahui bahwa saat ini kita berada pada sebuah aturan dan kebijakan yang berasal dari akal manusia yang lemah dan terbatas. Aturan tersebut adalah aturan yang mengadopsi kebebasan, diantaranya adalah kebebasan berprilaku. Oleh karenanya masyarakat saat ini menganut gaya hidup bebas yang mengukur segala sesuatu dengan hawa nafsu. Inilah yang menjadi salah satu pemicu seseorang tidak mampu mengendalikan amarah hingga hilang akal dan pada akhirnya melakukan tindakan di luar nalar bahkan sampai menghilangkan nyawa manusia.
Inilah buah hasil dari sistem sekuler kapitalis. Paradigma sekuler kapitalistik yang diembannya membuat fungsi strategis negara terkooptasi kepentingan-kepentingan tertentu saja. Alih-alih peduli dengan urusan rakyatnya negara justru menjadi biang munculnya berbagai kemaksiatan. Diperparah lagi dengan diterapkannya sistem hukum kapitalis yang jelas telah membajak potensi para pemuda hari ini.
Maka dari itu, untuk mengatasi persoalan- persoalan tersebut, dibutuhkan solusi yang sistemis, yakni penyelesaian dengan penerapan syariat Islam kaffah (menyeluruh) sehingga tercipta keamanan. Adapun mekanisme Islam dalam hal kekerasan dalam bentuk apapun yaitu dengan menjadikan akidah Islam sebagai asas berpikir dan bersikap bagi seluruh pihak baik individu, masyarakat, maupun negara.
Kemudian, negara dalam sistem Islam akan menjadikan pendidikan berdasarkan kepada syari’at Islam sehingga mampu mencetak generasi talqiyan-fikriyan-muatsaran, yaitu proses menjadikan ilmu menjadi pemahaman dengan proses berpikir bukan sekadar dihafalkan tapi harus di upgrade ke kehidupan sehari-hari.
Selain itu negara dalam sistem Islam akan menerapkan sistem sanksi berdasarkan kepada aturan Islam. Sanksi yang mampu memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah dari kemaksiatan yang dikhawatirkan terjadi, sistem Sanksi itu juga akan menjadi penebus di akhir hidup kelak.
Dengan metode pengaplikasian ini, akan mampu merubah jiwa individu sehingga terdorong untuk taat syariat.
Oleh sebab itu, saat ini kita membutuhkan seorang pemimpin yang mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi dengan aturan yang berasal dari sang maha pencipta dan diterapkan dalam sebuah naungan sistem yakni sistem Islam
Wallahu’alam bishawab.










