Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Sedih dan pilu ketika puluhan tahun dunia pendidikan kita telah melakukan dosa besar. Dosa besar dalam bentuk apa ? Tiada lain adalah adanya penjurusan IPA, IPS dan bahasa. Terutama IPA IPS.
Dahulu, bahkan sampai kini masih ada pemikiran menjadi siswa jurusan IPA terasa istimewa. Menjadi siswa jurusan IPS terasa kelas 2. Ini sebuah realitas mental yang terjadi di setiap satuan pendidikan.
Bahkan ada oknum guru karena keterbatasan ilmu menstigma siswa jurusan IPS sebagai siswa banyak masalah. Siswa jurusan IPS dianggap biang kenakalan di setiap sekolahan.
Lebih parah lagi dahulu pemerintah (kementerian pendidikan) ikut ambil bagian dalam “menstigma” siswa jurusan IPS. Lomba lomba sejenis olimpiade, hanya mata pelajaran IPA.
Lebih parah lagi, lomba lomba gurunya pun hanya pelajaran IPA. Anak didik dan guru IPS, tidak diberi “ruang” untuk berlomba meningkatkan kompetensi disiplinnya.
Beberapa tahun kemudian lomba anak dan guru IPS, akhirnya diadakan, walau sangat terlambat. Itu pun hasil protes, berkali kali. Puluhan tahun anak didik dan guru IPS nyaris tanpa ruang ekspresi olimpiade dan sejenis.
Kini dengan dihapusnya jurusan IPA, IPS dan bahasa di SMA khususnya, adalah sangat positif. Ini adalah bagian dari “pengampunan dosa” setelah puluhan tahun anak didik dianaktirikan dalam nama jurusan tertentu.
Terimakasih Kemdikbud Ristek, Merdeka Belajar sejatinya terus “memerdekakan” setiap anak didik dan guru dari jumuditas yang diskriminatif. Semua anak adalah juara, semua anak adalah bintang. Kecuali bukan ciptaan Tuhan.











