Pewarta: Dwi Arifin
(Koran SINAR PAGI)-, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Jawa Barat mengharapkan agar dana bantuan dari pemerintah yang masuk ke desa dapat dimanfaatkan juga untuk pencegahan stunting. Melalui penyediaan air bersih serta perbaikan sanitasi yang memiliki peran penting dalam penurunan stunting, sebagai upaya pencegahan dari celah munculnya sumber penyakit di lingkungan keluarga.
Kepala Bidang Pengembangan Potensi Desa DPMD Jawa Barat, Bayu Rakhmana S.STP M.Hum menjelaskan kebutuhan air bersih bagi masyarakat merupakan prioritas setelah kebutuhan gizi. Sehingga layanan air bersih perlu menjadi target pembangunan desa kedepan untuk pencegahan stunting.
“Secara aturan dana yang ada di APBDesa dibolehkan untuk itu dan beberapa desa sudah berhasil memberikan layanan air bersih untuk warganya”ungkapnya setelah meninjau sumber air yang sering dipakai oleh masyarakat, namun diperkirakan belum sesuai standar air bersih yang ada di perkampungan wilayah pegunugan desa Kramat Mulya Soreang Kabupaten Bandung, beberapa minggu yang lalu.
Informasi yang dihimpun koransinarpagijuara.com, di Kabupaten Bandung masih sedikit jumlah pemerintah desa yang berhasil memberikan layanan air bersih.
Keberhasilan dalam mengelola layananan air bersih itu telihat di desa Margahayu Tengah Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung, wilayah desa yang berbatasan langsung antara Kabupaten Bandung dengan Kota Bandung.
Dudi Badrudin Sekertaris Badan Usaha Milik Desa / BUMDesa Marga Bhakti Persada Marteng Desa Margahayu Tengah menjelaskan ada dua unit usaha yang berhubungan dengan air bersih, pertama pengelolaan air bersih dan ke dua isi ulang air Alkali.
“Kalau untuk pengelolaan layanan air bersih sudah ada sejak tahun 2014. Sekarang sudah ada 30 titik sumber air bersih yang mencukupi untuk layanan sekitar hampir 3000 sambungan rumah”jelasnya saat wawancara khusus bersama media cetak dan online di ruang kerjanya (8/10/2024)
Menurutnya layanan air bersih itu berbasis bisnis dan sosial, harganya mencapai Rp.4000/meter kubik di tahun 2024, ada kenaikan Rp.1000 yang sebelumnya selama hampir 10 tahun ke belakang hanya Rp.3000/meter kubik. Kenaikan itu berdasarkan dorongan kenaikan harga listik dan oprasional bulanan atau tahunan lainnya.
Dudi Badrudin mengungkapkan berdasarkan WHO / World Health Organization bahwa kebutuhan pokok minimal terhadap air bersih sekitar 60-70 liter per orang setiap hari. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, sumber air yang dipakai dari sumur dalam / sibel dengan kedalaman sekitar 120 meteran. Standar airnya sudah dicek di laboratorium sesuai standar kesehatan air bersih untuk diminum atau dipakai.
“Berdasarkan hitungan terakhir tahun 2023, pengelolaan layanan air bersih menghasilkan keuntungan bagi PADesa atau Pendapatan Asli Desa sebanyak Rp.155 juta. Sekitar 30% untuk oprasional Bumdesa dan 70% dikelola oleh pemerintah desa. Dari total omset yang hampir mencapai 1,5 Miliar pertahunnya” ungkapnya
Saat ditanya sumber anggaran untuk 30 titik sumber airnya yang dibangunnya itu?… Dudi Badrudin menyatakan sumber dananya ada yang dari APBN, APBD atau APBDesa.
Dudi Badrudin menyimpulkan untuk keberlangsungan usaha layanan airnya, pihaknya terus berupaya monitoring dan evaluasi setiap bulan atau tahunannya. Memperkecil masalah yang ada untuk mencapai kepuasan pelanggan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
“Sesuai amanat dari bapak komisaris atau Kepala Desa, pengelola Bumdesa agar mengutamakan kerja ikhlas dan tuntas saat memberikan layanan kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang sering dibutuhkan setiap waktu”ucapnya
https://jurnalisindependenbersatu.com/2024/08/20/selama-5-windu-media-massa-sinar-pagi-diprediksi-miliki-lebih-dari-10-juta-publik-baca/
