Oleh : Sumiati
Masa jabatan presiden Joko Widodo kemarin (Minggu, 20/10/2024) berakhir setelah dilantiknya Prabowo Subianto sebagai presiden dan Gibran Rakabuming Raka. Selama 10 tahun masa jabatan presiden Jokowi, masyarakat menilai hasil kerjanya selama menjabat. Hasil survei yang dilakukan beberapa surveyor Indonesia menyatakan keberhasilan 10 tahun kepemimpinan Jokowi. Sebagaimana dilansir dari tempo.co (Jum’at, 4/10/2024), dimana hasil survei indikator politik Indonesia menunjukkan kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Joko Widodo. Kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi menjelang akhir jabatannya ini mencapai 75 persen.
Menurut Deputi Protokol dan Media Sekretariat Presiden Yusuf Permana, kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Jokowi ini merupakan bukti kerja keras Presiden dalam kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan yang telah diimplementasikannya selama ini. Seperti infrastruktur, kesehatan, pendidikan hingga penanganan pandemi serta pemulihan ekonomi.
Mereka boleh saja merasa puas dengan capaian survei tersebut, namun apakah survei tersebut sudah sesuai dengan kenyataannya? Jika kita melihat perkembangan di media sosial, ternya banyak kritikan dari masyarakat yang merasa tidak puas dengan kepemimpinan Jokowi ini.
Dalam infrastruktur, mungkin iya banyak infrastruktur yang bangun seperti jalan tol, kereta cepat dan lainnya. Tapi bagai mana dengan ekonomi, pendidikan dan kesehatan? Ekonomi misalnya, harga-harga melambung tinggi membuat masyarakat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Meskipun ada bantuan sosial dari pemerintah tapi tidak semua masyarakat mendapatkan bantuan tersebut. Terlebih banyaknya pabrik yang gulung tikar akhirnya banyak karyawan yang di PHK.
Pendidikan pun sama, mahalnya pendidikan sulit bagi orang yang tidak mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya. Seperti halnya bansos dalam pendidikan pun ada KIP, tapi lagi-lagi tidak semua siswa mendapatkan KIP tersebut. Gaji guru honorer yang tidak sesuai, padahal dalam hal kerjanya sama. Kemudian masih banyak sekolah-sekolah yang sulit dijangkau oleh masyarakat pedesaan, bahkan mereka harus berjuang melewati derasnya arus sungai untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan saat ini hanya menghasilkan pemuda yang suka tawuran bahkan bisa menjadi pelaku kejahatan. Karena materinya bukan akidah Islam melainkan sekuler.
Kesehatan, sama dengan masalah ekonomi dan pendidikan meskipun ada jaminan kesehatan namun harus melewati serangkaian administrasi yang ribet. Meskipun ada jaminan kesehatan tapi tetap harus membayar setiap bulannya.
Itu baru dalam tiga bidang, belum dalam bidang-bidang yang lain seperti politik, hukum, sosial dan budaya. Apalagi dalam masalah agama, rezim Jokowi ini sangat represif terhadap orang-orang yang menyerukan syariat Islam untuk memecahkan problematika kehidupan baik individu maupun bernegara. Ustad-ustad di kriminalisasi sementara penista agama dibiarkan. Apakah seperti ini hasil survei yang mereka sebut sebagai keberhasilan? Ini dikembalikan lagi kepada masyarakat yang mau berpikir. Bagi masyarakat kalangan menengah keatas mungkin mereka puas karena pemerintahan ini hanya berpihak kepada para pengusaha, tapi bagi kalangan menengah ke bawah kesulitan dan kesengsaraan sangatlah dirasakan.Wallahu’alam bishshawab
