Bandung Banjir Lagi, Sampai Kapan?

0
454

Oleh: Sumiati

Seperti sudah menjadi fenomena tahunan, banjir di Bandung, Jawa Barat kembali terjadi. Sebagaimana dilansir dari Kompas.com (21/11/2024),  akibat luapan sungai Cikapundung dan Citarum, dua kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat kembali dilanda banjir. Ini sehari sebelumnya intensitas hujan cukup tinggi. Di Kampung cijagra ketinggian air mencapai 1,5 meter.

Menurut salah seorang warga, banjir yang kerap melanda wilayahnya merupakan air kiriman dari kota Bandung. Yang warga sayangkan selama  banjir melanda sudah dua hari ini belum adanya bantuan dari pemerintah. Padahal mereka membutuhkan tempat pengungsian dan makanan karena tempat tinggal mereka tidak bisa ditempati.

Selain Kecamatan Bojongsoang banjir juga merendam Kecamatan Dayeuhkolot, dan mengakibatkan akses lalulintas sempat terganggu karena ketinggian air mencapai 30-40 cm. Masyarakat dihimbau agar selalu waspada karena curah hujan diperkirakan akan tinggi hingga Februari nanti.

Sungguh ironi saat musim hujan tiba selalu dibarengi dengan fenomena banjir tahunan. Banjir yang terus berulang ini menunjukkan pemangku kebijakan dalam merancang tata kelola ruang. Seharusnya seorang pemimpin tahu dalam pengolahan lahan, mana lahan yang bisa dijadikan sebagai tempat industri, perumahan, perkantoran, mana area yang bisa dijadikan sebagai pusat pembelanjaan dan mana area yang diperuntukkan sebagai resapan air, sehingga tercipta keseimbangan ekologis.

Banjir yang terjadi saat ini dan kerusakan lingkungan lainnya, tidak lain merupakan sebab ulah tangan manusia. Sistem kapitalisme terbukti melahirkan manusia yang serakah dan niradab dalam mengelola lahan yang akhirnya menimbulkan penderitaan dan kerusakan. Sistem kapitalisme yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, selama segala sesuatu itu bermanfaat baginya tidak akan pernah melihat akibat yang akan ditimbulkan meskipun itu akan menyengsarakan orang banyak.

Hal ini tentu tidak akan terjadi dalam sistem Islam. Karena di dalam Islam penguasaan lahan tidak boleh diatur oleh segelintir orang. Ada yang namanya kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Apa yang menjadi kepemilikan umum tidak boleh dikelola oleh individu karena itu adalah milik rakyat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.;
“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Jika Islam diterapkan, tentu tidak akan ada penguasaan lahan atas segelintir orang. Tidak akan ada pembangunan yang mengabaikan manusia. Hanya sistem Islamlah yang memanusiakan manusia. Generasi dalam Islam akan diberikan ruang yang nyaman dan aman dalam tumbuh kembang mereka, yakni dengan menjamin kesehatan dan lingkungan yang sehat. Tentu kita tidak bisa terus berharap kepada sistem kapitalisme yang rusak dan merusak dan harapan terbesar kita adalah kembalinya kehidupan Islam yang dulu pernah jaya selama 1300 tahun lebih. Wallahu’alam bishshawab