Radikalisme dan Intoleran Dalam Genggaman Sekulerisme

0
224

Oleh : Komanah (Ibu Rumah Tangga)

Detik Jabar: Debat kedua Pilbup Bandung 2024 digelar di Hotel Sultan Raja, Soreang, Rabu(20/11/2024) malam. Debat ini diikuti pasangan nomor 1 Sahrul Gunawan serta Paslon nomor 2 Dadang Supriatna dan Ali Syakieb.
Dalam debat ini, kedua pasangan saling beradu gagasan mengenai radikalisme. Calon Wakil Bupati nomor urut 2 Ali Syakieb menegaskan, pentingnya pencegahan radikalisme dan intoleransi, terutama dikalangan generasi muda. Ia menyebut, selama masa kepemimpinan DS telah banyak melaksanakan program untuk memperkuat pendidikan Pancasila tingkat sekolah dasar.

Dadang Supriatna telah menjalankan program intensif untuk para guru ngaji sebagai salah satu strategi mencegah radikalisme. Selain itu, juga sudah menjalankan program intensif untuk para guru ngaji. Hal ini untuk meningkatkan penjagaan dari para guru agar paham radikalisme dan tidak mudah di akses oleh generasi muda,” katanya.
Dadang Supriatna menambahkan ia bekerja sama dengan TNI-Polri dalam mencegah penyebaran paham radikalisme. Kedepannya berencana memperkuat pendidikan melalui pendekatan bahwa, Intoleran itu harus diberantas. Kita tinggal memperkuat pendidikan Pancasila, saya yakin jika itu diperkuat maka radikalisme tidak akan terjadi, ” kata Dadang Supriatna.

Sementara calon urut 1 Sahrul Gunawa, menilai radikalisme berakar pada permasalahan ekonomi. Ia mengkritik program Dadang Supriatna terkait pemberantasan bank emok (praktek rentenir) . Radikalisme dan intoleransi akarnya ekonomi, kami akan memperkuat ekonomi bukan sekedar memberantas bank emok. Menekankan pentingnya peran pesantren sebagai pusat pendidikan dan benteng nilai-nilai moderasi beragama.
Menurutnya, Kabupaten Bandung pesantren yang terbesar kita bisa mengaktifkan itu pungkasnya.

Istilah bahasa Intoleransi dan radikalisme sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita, seakan lagu lama yang terus diulang-ulang dan memberikan kesan yang negatif kepada agama Islam. Apalagi biasanya, kalau mendekati hari natal istilah itu semakin digaungkan. Aparat kepolisian akan menjaga ketat tempat ibadah kristiani atau gereja-gereja, seakan umat Islam dianggap suatu ancaman bagi mereka. Bagi yang tidak mengucapkan selamat hari Natal juga dianggap intoleransi, padahal kita sebagai umat Islam mempunyai aturan yang datang dari Allah SWT, bahwa kita dilarang mengucapkan selamat kepada orang Kafir. Inilah buah dari sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, segala sesuatu tidak didasarkan kepada aturan Allah SWT, tetapi hanya merujuk kepada aturan buatan manusia.

Ketika seruan kata toleransi digaungkan oleh penguasa dinegri mayoritas muslim ini, pada realitanya umat Islam pula lah yang mendapatkan perlakuan intoleransi. Opini negatif yang dilontarkan kepada umat Islam, bahkan ulamapun diskriminasi. Seruan untuk menerapkan syari’at Islam dianggap sikap intoleran. Bahkan pada saat ada pemboman bunuh diri yang dilakukan oleh orang yang gagal paham tentang ajaran Islam tapi yang dituduh adalah agama Islam.

Islam adalah agama yang toleran, Islam merupakan agama yang memberikan Rahmat bagi seluruh alam semesta. Disamping itu Islam bukanlah agama yang radikalisme karena dalam agama Islam siapa yang membunuh seorang manusia atau membuat kerusakan maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruh dunia. Sejak dulu Islam adalah agama yang sangat menghormati peradaban, Islam bukan agama yang membenci ritual agama lain bahkan Islam adalah agama yang memberikan Rahmat bagi seluruh alam semesta.

Berbagai cara telah dilakukan oleh pemerintah agar masalah intoleransi bisa diatasi salah satunya memberikan penyuluhan dan seruan terkait intoleransi dan radikalisme.yang hakiki, karena dengan menyerukan dan menerapkan syari’at Islam lah semua permasalahan terkait apapun akan dapat diselesaikan. Tidak ada yang bisa diharapkan dari sistem sekuler untuk menuntaskan segala problematika umat hanyalah dengan menerapkan syari’at Islam. Karena dengan menerapkan syari’ah Islam lah yang mampu membawa keberkahan didunia dan akhirat kelak.

Wallahu alam Bisshowab.