Raih Penghargaan Produktivitas Padi, Sudahkah Mensejahterakan?

0
252

Oleh : Sumiati

Suatu kebahagiaan dan kebanggaan ketika daerah yang kita tinggali mendapatkan penghargaan. Sebagaimana dilansir dari dejurnal.com, Kamis (28/11/2024),  Pemerintah Kabupaten Bandung menerima penghargaan dari Dinas Pertanian yaitu : sebagai “Kabupaten/Kota Terbesar Produktivitas Padi di Jawa Barat Tahun 2024”.

Penghargaan tersebut membuktikan bahwa Kabupaten Bandung berhasil dalam sektor pertanian. Selain pemerintah, kelompok tani di Kabupaten Bandung juga mendapatkan penghargaan sebagai kelompok tani dengan budidaya organik tanaman holtikultura terluas di Jawa Barat.

Penghargaan yang diberikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bandung ini mencerminkan komitmen mereka dan kelompok tani dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan.

Padi merupakan salah satu sumber makanan pokok masyarakat Indonesia, tentu harus tetap dilestarikan agar mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.

Sebagai warga Kabupaten Bandung tentu kita bangga atas prestasi tersebut. Namun, dari pencapaian tersebut apakah pemerintah sudah memberikan kesejahteraan masyarakatnya? Karena kalau kita melihat di lapangan harga beras di pasaran masih cukup tinggi. Kalau memang Kabupaten Bandung ini sebagai produktivitas padi terbesar, seharusnya harga beras itu harus menurun.

Ajang penghargaan yang selalu di blow up oleh media, termasuk capaian-capaian daerah dengan prestasinya tentu bisa memberi nilai terhadap daerah tersebut, seperti reputasi dan branding daerah. Tentu ini sangat bagus jika dijadikan sebagai evaluasi daerah, namun jika banyaknya prestasi yang diraih tidak memberikan dampak positif pada kondusifitas masyarakat dalam berbagai hal termasuk kenaikan harga beras, maka ajang tersebut tidak berguna.

Yang menjadi kekhawatiran adalah ketika ajang penghargaan itu di setting untuk tujuan meningkatkan peminat investor swasta dan asing, justru akan menjadi bencana bagi daerah tersebut. Intinya, sebuah prestasi daerah seharusnya juga menunjukkan pada minimnya permasalahan masyarakat, dan masyarakat bisa hidup tentram dan nyaman, terutama bagi kaum muslim. Terpenuhinya segala hajat hidup bisa membuat mereka lebih nyaman beribadah. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa selama kebutuhan hidup masyarakat belum terpenuhi, maka penghargaan itu tidak bermanfaat bagi masyarakat.

Di dalam sistem Islam, penghargaan tidaklah dibutuhkan, karena rakyat hanya membutuhkan periayahan yang baik yang bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka. Di dalam sistem Islam penguasa/Khalifah bertanggungjawab dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakatnya seperti sandang, pangan dan papan termasuk pendidikan, kesehatan dan pelayanan publik lainnya. Seharusnya capaian produktivitas padi yang besar mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dan semua itu hanya ada pada kepemimpinan Islam.
Wallahu’alam bishshawab