Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Ada dua “lokus” yang sangat penting dijembatani agar terjadi hubungan harmonik atau kolaborasi mutualisma. Lokus itu adalah sekolah (GTK) dan rumah (orangtua siswa).
Betapa strategisnya “komunikasi” dalam mengharmonikan pihak sekolah dan orangtua. Sukses komunikasi dengan pihak orangtua identik sukses proses edukasi kolektif anak didik.
Ada beberapa catatan agar komunikasi dengan orangtua siswa di sekolah optimal dan sukses. Pertama, pastikan semua orangtua dan anak didik teridentifikasi secara optimal, mulai sejak awal menjadi warga almamater.
Data terkait orangtua dan anak didik harus valid, terkonfirmasi dengan baik. Plus kultur dan realitas sosial ekonomi dan pendidikan orangtua dan anak didik. Realitas “nasab” Sang Anak didik harus valid.
Bila saat momen PLS anak didik diberi waktu untuk adaptasi dan pengenalan lingkungan sekolah, maka sekolah punya kewajiban mendalami PLOS “Pengenalan “Lingkungan” Orangtua Siswa”.
Sekolah berhadapan dengan siapa ? Anak tanpa orangtua ? Orangtua dari realitas yang bagaimana ? Orang kaya ? Orang KETM ekstrim ? Orangtua pengangguran ? Orangtua pejabat ? Atau orangtua tokoh LSM ? Entitas jurnalis ?
Pertanyaan di atas adalah sebuah “asesman” pada entitas orangtua siswa. Komunikasi diferensiatif yang realistis, wajib menjadi pertimbangan pihak sekolah. Setiap anak didik adalah modal sukses sekolah, termasuk orangtuanya.
Kedua, pastikan dari pihak sekolah (guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan) terkondisi dengan baik. Warga sekolah (semua GTK) harus punya informasi terbaik yang terkonfirmasi bersama.
Terkondisi dengan baik artinya segala informasi tentang visi misi dan dinamika harian sekolahan dikuasai. Terutama terkait kesungguhan sekolah dalam melayani setiap anak didik. Mengapa tidak sekolah punya “Buku Saku” sekolah yang terupdate di web sekolah ?
Pastikan setiap GTK selalu siap, sigap, tanggap terhadap apa pun yang dibutuhkan, ditanyakan dan diharapkan orangtua. GTK harus proaktif, apresiatif dan memberi kabar baik pada setiap orangtua.
Ketiga, GTK harus mampu menghidupkan WAG orangtua dan anak didik. Pastikan “24” jam WAG bisa melayani orangtua. Pastikan GTK dan orangtua menjadi keluarga baru di WAG yang afirmatif dan informatif.
Para psikolog mengatakan, “Semua orang ingin dihargai dan dianggap penting”. Pastikan GTK sekolahan mampu menjadikan setiap orangtua menjadi “tokoh penting” di sekolahan.
Keberadaan Komite Sekolah, GTK sekolah dan semua warga sekolah adalah bagian dari keluarga besar yang kolaboratif. Orangtua adalah modal pragmatic sekolah, anak didik adalah modal masa depan sekolah.
GTK di sekolahan harus menyadari bahwa hakekatnya semua orangtua dan anak didik adalah “rezeki” bagi sekolahan. Sekolahan ada, eksis dan dihargai karena ada anak didik dan orangtua yang kolaboratif.
Ki Hajar Dewantara mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Peserta didik itu ibarat biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh Si Petani di sekolahan. Orangtua adalah sahabat terbaik petani.
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang memanusiakan manusia. Menghargai pendengar bahkan lebih penting dari apa yang diperdengarkan. Tak kenal maka tak sayang.
Tebarkan komunikasi kasih sayang pada anak didik dan orangtua, maka mereka pun akan memantulkan kasih sayang pada sekolahan dalam bentuk multi partisipasi dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.











