Oleh : Siti Saadah (Ibu Rumah Tangga)
Sebagian orang merasa was-was, cemas, takut dan khawatir memikirkan nasibnya di masa depan. Khawatir dia jatuh miskin, khawatir tiba-tiba suaminya meninggal dan tidak ada lagi yang menafkahi dirinya, atau khawatir tidak mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, dan lain sebagainya.
Baru-baru ini mengungkapkan bahwa Gen Z atau Generasi Z tengah menghadapi krisis paruh baya (midlife crisis) lebih awal dari seharusnya. Dalam studi mengungkapkan bahwa sebanyak 38% dari mereka mengalami krisis paruh baya akibat dari finansial yang luar biasa.
Melihat hal itu menunjukkan bahwa kesehatan holistik di semua kelompok usia karyawan mengalami penurunan tetapi penurunan terbesar pada Generasi Z dan itu tidak benar-benar dalam kondisi baik ujar Vice President MetLife, Todd Katz, dikutip dari Newyork Pos, sabtu (18/1/2025).
Generasi ini merasa terjebak dalam kecemasan, kelelahan, dan ketidakpuasan hidup. Mereka mengaitkan banyak hal ini dengan beban financial mereka. Berdasarkan hasil survei kesehatan holistik dikalangan pekerja Gen Z mengalami penurunan yang signifikan sebesar 6% dibandingkan tahun lalu.
Dikutip dari Daily Mail, jumat(17/1/2025). Ahli bedah dari Amerika Serikat, Dr Viviek Murthy memberikan komentar tentang survei kesejahteraan global yang menemukan bahwa usia 15 hingga 24 tahun semakin kurang bahagia dibandingkan generasi yang lebih tua.
Di laporkan bahwa 60% perempuan dan 45% laki-laki Gen Z khawatir bahwa tingginya biaya hidup akan menjadi penghalang untuk keamanan finansial di masa depan. Populasi di tempat kerja kini lebih beragama dibandingkan sebelumnya, dengan hadirnya berbagai generasi dalam angkatan kerja, yang tentunya memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.
Bagi Gen Z ini perlunya dukungan untuk mengatasi utang pendidikan, biaya pengasuhan anak, asuransi hewan peliharaan. Namun beberapa Gen Z dilaporkan menolak tawaran pekerjaan ketika budaya perusahaan dan fasilitas tempat kerja tidak sesuai dengan keinginan atau kebutuhan mereka. Dikutip dari lifestyle.okezone.com.
Situasi global yang terjadi pada Gen Z akibat penerapan sistem kapitalisme sekuler telah memberikan tekanan eksternal yang kuat sehingga Gen Z mengalami stres tekanan berlebihan akibat ketidakpastian masa depan. Digitalisasi di tangan rezim algoritma Men-setting nilai rasa dan pikiran Gen Z untuk melakukan berbagai hal agar bisa bertahan dan tetap eksis di era VUCA-BANI, inilah yang melahirkan doom sounding pada Gen Z.
Apalagi ketika kedaulatan digital sebuah negara hilang, kendali negara lemah menghadapi para mafia digital. Sebut saja, negara tidak berdaya menghadapi mafia judi online. Doom Spending sebenarnya bagian dari mental health crisis pada Gen Z. Gen Z hidup dalam lingkungan kebijakan rezim global yang kapitalistik dalam tatanan kehidupan sekuler.
Sekularisme jelas telah memberikan tekanan kepada manusia sampai pada tatanan mengancam kemanusiaan. Fenomena tindakan irasional yang diambil Gen Z, mewabah seperti penyakit menular dengan daya tukar yang sangat efektif.
Hal ini merupakan malapetaka besar kehancuran generasi yang bermakna, kehancuran bagi negara serta hilangnya masa depan sebuah umat. Bagi Islam, ini perkara paling penting yang harus segera mendapatkan perlakuan dan penyelesaian yang tepat. Gen Z hakikatnya paling dirugikan dengan modal kehidupan kapitalistik sekuler ini.
Semestinya, Gen Z menyadari besarnya tanggung jawab mereka untuk melakukan perubahan skala sistem yang dimulai dari membangun kepekaan sosial sampai berujung pada lahirnya kesadaran politik.
Satu-satunya modal yang wajib dimiliki Gen Z, adalah modal pemikiran politik yang berbasis ideologi sahih. Literasi politik ideologi sahih yang mampuni akan membawa Gen Z mampu menangkap fenomena kerusakan sistematis yang bersifat global.
Tanpa modal pemikiran politik yang berbasis ideologi sahih, Gen Z hanya akan menempati posisi sebagai tumbal sistem yang rusak dan rapuh, yakni sekuler kapitalisme. Bagi Gen Z muslim dan muslimah, tentu pemikiran politik berbasis ideologi sahih ini adalah pemikiran Islam politik.
Pemikiran Islam politik akan paling banyak di serang oleh pengasong ideologi sekuler kapitalisme ketika mereka merasa terancam. Terancam korporasi mereka akan bangkrut dengan lahirnya kesadaran politik generasi muda muslim di seluruh dunia. Wallahu’alam bish shawwab
