Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Terutama bagi para ASN dan pekerja layanan pendidikan, narasi, orasi dan subtansi pemikiran pemimpin harus dimaknai. Termasuk “sengatan” pemikiran Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang tertakdirkan menjadi Gubernur Jawa
Barat terpilih.
KDM banyak melontarkan ide dan gagasan. Ide dan gagasan ini tentu harus diartikulasi dan diimplementasi oleh warga Jawa Barat, terutama “bawahannya” yang menjadi barisan KDM. Diantara pemikiran KDM adalah terkait “Saatnya Entitas Pejabat Menyambut Rakyat”, bukan pejabat yang disambut rakyat.
Para pejabat dan para pemimpin harus menyambut rakyat dengan baik. KDM mengatakan, “Ayeuna mah salah, lain usumna pamimpin disambut mah”. Sambut rakyat dengan jalan, sakola anu aralus. KDM mengajak saatnya para pejabat “melayani” rakyat, bukan dilayani rakyat.
KDM adalah budayawan, seniman, penulis, oratoris, politisi dan kini segera secara formal akan menjadi pemimpin birokrasi pemerintah Provinsi Jawa Barat. Warga Jawa Barat tentu akan terbawa “gaya” KDM dalam “meng_orkestrasi” dinamika layanan pemerintahan.
Bagi KDM budaya menyambut para pejabat sudah berlalu. Nampaknya Ia ingin memberikan hal baru. Hal baru yang lebih berorientasi “penguatan” pada layanan publik dan menerjemahkan apa yang diinginkan masyarakat.
Ketika Ia “mencoret” fasilitas kendaraan dinas gubernur dan meminta dialihkan pada fasilitas rakyat, ini sebuah kode. Kode gaya kepemimpinan yang fokus pada lokus rakyat. Ia sering mengatakan gerakan kepemimpinannya menggunakan rasa. Energi rasa sesama dan semesta adalah referensinya.
Rasa yang ada dalam diri setiap manusia adalah energi genuine yang murni. Sambung rasa, rasa yang tersambung sesama manusia untuk mewujudkan idealitas bersama. Kesejahteraan bersama, keadilan dan kebahagiaan diantara rasa yang bersemayam dalam jiwa manusia.
KDM pernah memperlihatkan photo dirinya diinjak warga masyarakat dalam giat panjat pinang. Ini pun sebenarnya kode. Kode bahwa terutama bawahan KDM jadilah pribadi yang melayani dan melampaui keinginan rakyat Jawa Barat.
Termasuk “perintahnya” terkait penyerahan ijazah para lulusan sekolahan, negeri maupun swasta. Bila perlu, antarkan oleh pihak sekolah ke rumah masing masing lulusan. Anak tidak ngantri ngambil ijazah tapi guru nganterin ijazah. Ngantri dengan “nganterin” dua hal berbeda.
Bila mantan Dirjen GTK, Dr. Iwan Syahril Ph.D., mengatakan mari “berhamba” pada anak didik, yang Ia adaptasi dari Ki Hajar Dewantara maka penyerahan ijazah tanpa dipungut biaya sepeser pun dan dihantarkan adalah implementasi “berhamba pada anak didik dan “menyambut” rakyat.
Pejabat yang selalu disambut dulu versi KDM sudah masa lalu, dan harus berlalu. Anak didik menyambut guru dan kepala sekolah, sudah berlalu dan masa lalu. Saatnya para pejabat menyambut rakyat dan saatnya para guru dan kepala sekolah menyambut anak didik.
Pemegang kedaulatan di sebuah negara adalah rakyat. Pemegang kedaulatan di sebuah sekolahan adalah anak didik. Pejabat bukan siapa siapa tanpa rakyat. Guru dan kepala sekolah pun tidak punya pekerjaan tanpa anak didik. Sukbjek layanan prioritas adalah rakyat dan anak didik.
Era menyambut pejabat telah berlalu. Kini eranya melayani rakyat sepenuh hati. Integritas, kualitas layanan dan profesionalisme setiap entitas ASN didedikasikan pada rakyat. Rakyat adalah raja. Layani rakyat sepenuh hati, maka hujat dan cacian akan hilang.
KDM pun tentu hanya manusia biasa. Ia akan punya kekurangan dan kelemahan, begitu pun kita yang ASN atau rakyat biasa, akan sangat banyak kekurangan. Realitas kekurangan adalah asbab kita untuk menguatkan kolaborasi, saling belajar dan saling mengingatkan. Hanya Allah yang sempurna. Malaikat pun bahkan tidak lebih sempurna dari kita.
