Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Saat Kang Dedi Mulyadi (KDM) berbicara dihadapan para birokrat/pejabat pemerintah Provinsi Jawa Barat, Ia mengatakan “Jabatan tertinggi adalah salamet”.
Perkataan di atas tentu sangat tidak bisa dibantah. Mengapa tak dapat dibantah? Ya karena setinggi apa pun jabatan para birokrat. Tetap saja salamet lebih utama, lebih tinggi dari status dan posisi jabatan seseorang.
Bukankah para penganut agama doanya, ingin salamet/selamat dunia akhirat? Selamat dunia akhirat adalah idealitas yang ingin diraih semua umat manusia. Pernyataan KDM di atas sangat substantif.
Pernyataan KDM secara substantif sama dengan pernyataan Prof. Dr. KH HM Rasjidi yang mengatakan “Kita lahir dari rahmat Allah, hidup mencari rahmat Allah dan kembali pada rahmat Allah”. Salamet itu identik dengan “selalu” dalam rahmat Allah.
Keselamatan itu identik dengan keberadaan kita yang selalu dalam rahmat Allah. Siapa pun, apa pun jabatan dan kekuasaan seseorang, bila Ia tidak berada dalam rahmat Allah, Ia tidak selamat. Diantara ciri ASN/birokrat berada dalam rahmat Allah adalah berintegritas, atau ASN ber_AKHLAK.
Beberapa bulan yang lalu saya menulis tentang jabatan seseorang. Jabatan seseorang termasuk para birokrat tidak dikatakan sukses karena terus naik jabatan. Naik jabatan itu bukan sebuah kesuksesn.
Lantas apakah indikasi sukses seorang ? Indikasi sukses seseorang adalah lulus mulus bekerja sampai pensiun. Itulah diksi lain dari selamat. Sukses menuntaskan amanah sebagai birokrat atau ASN, itulah selamat.
Maka jabatan tertinggi dari seorang birokrat atau ASN bukanlah posis posisi tertentu dalam bidang tertentu. Melainkan tuntas melaksanakan amanah sebagai aparatur negara sampai pensiun tanpa ada masalah. Itulah selamat.
Makanya yang harus dirayakan bukanlah naik jabatan seseorang, melainkan bila seseorang pensiun secara formal sebagai ASN/birokrat sangat layak dirayakan. Mengapa? Karena Ia sudah selamat, lulus mulus menuntaskan amanah negara.
ASN atau birokrat yang sudah mampu menuntaskan tantangan dan ujian saat masih jadi ASN/birokrat, adalah luar biasa. Apalagi di zaman sekarang, dimana masyarakat semakin melek dan kadang mudah menghakimi entitas ASN/birokrat sesuka hati.
Media sosial sejenis Tiktok, berita Online abal abal terus menerus membuat penghakiman sepihak pada para ASN terutama birokrat. Masyarakat netizen, jamaah Tiktok sangat mudah “menghakimi” entitas birokrat atau ASN yang punya jabatan.
Posisi dan jabatan para ASN bukan sebuah kesuksesan lagi. Kini kesuksesan seorang ASN/birokrat adalah selamat. Selamat adalah jabatan/posisi tertinggi yang harus diraih. Raihan selamat adalah raihan tertinggi. Salamet, selamat.
