Cahayanya Cenderung Kuning Jingga
Sinarnya menghangatkan Dunia
Sentuhan cahayanya menghangatkan tubuh
Kehadirannya dirindukan mahluk di Bumi
Namun bagi pemalas tetap tertidur pulas
Tidak memilih untuk menikmati cahaya itu
Seolah-olah alam tidur lebih indah
Padahal Bumi mulai terlihat cerah
Di saat Matahari pagi mencerahkan Bumi
Disambut suara riang burung berterbangan
Matahari pagi merubah gelap menjadi terang
Matahari merubah dingin menjadi kehangatan
Namun semuanya tidak terasa indah
Jika awal hari itu tidak disyukuri
Namun semua itu tidak dianggap istimewa
Karena manusia tak meyakini itu bagian dari anugrah Tuhannya
Penulis: Dwi Arifin
(Jurnalis Independen Bersatu Memperingati Hari Puisi Sedunia di 21 Maret 2025)
30 Menit Jum’at Bersama Ulama, “Drs.H. Saepul Bahri M.Si Ungkapkan Berkah Kajian Subuh”
