Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Termasuk Kang Dedi Mulyadi (KDM) banyak belajar pada ayat ayat sosial. Ia pun “menda’wahkan” keberislaman masyarakat dengan pendekatan ayat ayat sosial. Ia sangat kontekstual dalam menyampaikan ajaran agama dalam versinya.
KDM tidak terlalu banyak menyampaikan ayat ayat tertulis dari kitab suci yang diimaninya. Ia lebih banyak menyampaikan ayat ayat sosial kauniyah dari realitas keseharian masyarakat. Ini jauh lebih efektif dan edukatif.
Mengapa ayat ayat sosial (kauniyah) lebih efektif dari ayat qauliyah di jaman ini? Selain mudah dimengerti, kontekstual dan real, semua orang bisa melihat, mendengar dan merasakan langsung.
KDM tidak mengedepankan “riwayat masa lalu” melainkan memperlihatkan realitas hari ini, saat ini, sekarang. Ini sangat kontekstual dan pragmatik. Terutama generasi milenial konektivitasnya dengan realitas sosial lebih dekat.
Apa yang disampaikan, diperlihatkan dan dinarasikan KDM adalah realitas ayat ayat sosial. KDM pun meyakini bahwa da’wah dengan karya nyata lebih efektif dari da’wah hanya kata kata dan dogma dogma.
Kata kata, dogma dogma tidak lebih menyentuh dari realitas ayat ayat sosial. Bagaimana anak yatim, janda tua, pengemis, orang miskin diperlakukan dengan bijak. Bukan hanya kata kata dan dogma dogma yang diucapkan.
KH Syaiful Karim mengatakan, “Stop berkata yang baik baik, segera lakukan hal hal baik, lakukan tindakan yang baik, akhlak baik”. Kata kata baik sudah terlalu lama hinggap di mulut, segera wujudkan dalam aksi sosial.
KDM adalah pemimpin yang lebih banyak eksekusi kebaikan daripada narasi kebaikan (kata kata). Menghapal ayat dan menyampaikan ayat tertulis lebih mudah dari melaksanakan apa yang ada dalam ayat yang tertulis.
Ayat Kauniyah dan Qauliyah adalah dua jenis tanda kebesaran Allah SWT, dengan ayat Kauniyah merujuk pada tanda-tanda yang terdapat dalam alam semesta, sedangkan ayat Qauliyah merujuk pada tanda-tanda yang terdapat dalam firman Allah (kitab suci).
Dalam dunia kampus hal terbaik adalah fungsionalnya teori dan praktek. Begitu pun dalam kehidupan umat beragama, qauliyah dan kauniyah harus fungsional keduanya. Keduanya adalah ayat ayat dari Allah untuk manusia.
Bedanya kauniyah lebih dulu di muka bumi dan terus terjadi sampai sekarang. Qauliyah datang belakangan dan kini sudah tidak ada lagi, kecuali interpretasi yang terus berkembang.
Bisa disimpulkan da’wah dengan kata kata dan ayat ayat tertulis tidak lebih efektif dibanding da’wah dengan aksi nyata. Cerita dan fakta nyata dua hal berbeda. Kata keteladanan dan nyata keteladanan tentu tak sama.
