OPINI/Artikel

Apakah Kita Dholim ?

adminsigiku.com
×

Apakah Kita Dholim ?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Apa yang dikatakan Sekda Jabar, Herman Suryatman tidak lah berlebihan. Ia mengatakan bila ada ASN yang kerja biasa biasa saja masuk kategori dholim.

Mengapa dholim? Ia melihat betapa beruntungnya seseorang menjadi ASN. Ditengah jutaan warga negara, termasuk warga Jawa Barat, masih banyak yang nganggur mencari pekerjaan.

ASN yang asal kerja, kerja asal, asal berkinerja menuntasan dan menggugurkan kewajiban, sangatlah tak elok. Bagi Herman Suryatman sebaiknya semua ASN Jawa Barat berkinerja tidak kurang kalau dinilai angkakan dari 90.

ASN yang tidak pernah berprestasi, formal dan non formal dalam kinerja identik dholim. Sejelek jeleknya ASN bekerja di atas tuntutan formal, tidak kesiangan dan tidak cepat pulang.

Terutama ASN di entitas pendidikan, wajib lebih istimewa dalam bekerja. Mengapa ? Karena dunia pendidikan adalah dunia paling strategis di semua bangsa.

Pepatah bijak mengatakan, “Apa yang akan terjadi di masa depan, lihat apa yang terjadi di sekolahan hari ini”. Artinya layanan pendidikan yang optimal di ruang ruang kelas hari ini, identikasi dari masa depan.

Dalam buku berjudul “Battle Hymn of the Tiger Mother” karya Profesor Amy Chua, bagaimana seorang ibu China mendidik anak. Bisa jadi inilah diantara spirit yang diadaptasi Dedi Mulyadi (KDM).

Prof. Amy Chua menginginkan anak didik, anak China menjadi anak harimau, bukan anak ayam. Pendidikan yang disiplin, agak keras dan pantang menyerah diinjeksikan para ibu China pada anaknya.

Nah, bagaimana dunia sekolahan dan dunia pendidikan ibu ibu di Indonesia ? Kita semua harus belajar pada orang China dan Yahudi dalam mendidik anak, mengapa tidak ?

Bahkan orang Yahudi sangat sangat luar biasa dalam melahirkan generasinya. Ia memulai “rekayasa” dari proses pembuahan, saat hamil dan saat balita terutama.

Dedi Mulyadi (KDM) dalam orasi dan sambutan di sejumlah acara selalu mengkomparasi prosesi pendidikan anak kita dan bangsa lain yang lebih baik, terutama China.

Profile Pelajar Panca Waluya setidaknya menjadi gerakan bersama “revolusi mental” bagi anak didik kita. Terutama ASN guru yang setiap hari ada di ruang kelas. Pastikan terlahir benih benih karakter Panca Waluya.

Bila secara kebangsaan kita punya ideologi Pancasila, maka secara kebersamaan dalam mendidik anak Jawa Barat, kita punya Panca Waluya.

Generasi Panca Waluya hanya bisa terlahir dari entitas guru Jawa Barat yang bekerja optimal, dari rasa dan hati yang dedikatif. Terutama para guru ASN, wajib super optimal.

Bila masih ada guru/KS selalu terlambat ke ruang kelas/sekolah, gerakan Gapura Panca Waluya adalah gerakan bohong! Bayangan hanya terlahir/terbentuk dari objeknya.