Oleh: Ambu Marni
Gubenur Jawa Barat Dedi Mulyadi, mensyaratkan vasektomi kepada warga miskin penerima bansos. Dengan harapan vasektomi dapat mengurangi angka kemiskinan warga Jawa Barat.
Kebijakan di atas timbul karena adanya opini bahwa banyaknya anak atau naiknya populasi penduduk menjadi penyebab terjadinya kemiskinan. Hal ini pun dipengaruhi oleh teori ekonomi yang dicetuskan oleh ekonom Inggris, Robert Malthus beberapa puluh tahun silam yang mengatakan bahwa pertumbuhan populasi cenderung melampaui pertumbuhan produksi pangan sehingga dikhawatirkan terjadi kelaparan, penyakit dan kematian melanda umat manusia.
Vasektomi adalah salah satu prosedur penghentian kemampuan reproduksi kaum pria, selain kebiri. Keduanya punya kesamaan tujuan, yaitu memandulkan seorang lelaki. Akibatnya, ia tidak bisa mengeluarkan sperma untuk membuahi sel telur perempuan. Bedanya, kebiri dilakukan dengan pengangkatan testis (kantung sperma), sedang vasektomi hanya memutus saluran sperma dengan mengikat atau memotong saluran tersebut
Sebenarnya akar masalah kemiskinan adalah distribusi kekayaan yang tidak merata di negara ini akibat diterapkannya sistem Kapitalis sekuler. Sistem ekonomi kapitalisme membebaskan penguasaan kekayaan negara oleh segelintir orang. Akibatnya, muncul ketimpangan sosial yang lebar dan dalam. Menurut Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), 50 % aset nasional dikuasai hanya oleh 1 % orang kaya. Sementara rakyat kesulitan mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidup nya.
Penumpukan kekayaan pada segelintir orang ini menyebabkan roda ekonomi tidak berputar. Akibatnya, daya beli menurun, usaha lesu bahkan bangkrut, pengangguran bertambah, warga kesulitan mengakses pendidikan dan angka kemiskinan pun bertambah.
Inilah lingkaran setan kemiskinan yang dihasilkan ideologi kapitalisme.
Sistem kapitalisme juga membuat negara mengijinkan kekayaan alam dikuasai oleh swasta atau perusahaan asing. Padahal banyak bukti eksploitasi tambang oleh perusahaan swasta dan asing tidak menaikkan taraf hidup warga setempat. Yang ada, masyarakat mendapat pengaruh buruk dari eksploitasi itu, seperti banjir dan rusaknya soaial, ekonomi dan ekosistem.
Berlainan dengan sistem Islam, Islam mengatur masalah reproduksi dengan rinci, seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra.
“Kami dulu berperang bersama Rasulullah saw., sedangkan bersama kami tidak ada kaum perempuan (istri). Lalu kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah sebaiknya kami melakukan kebiri?” Kemudian Rasulullah melarang kami dari perbuatan tersebut” (HR al-Bukhari).
Dari hadits tersebut, dapat kita pahami bahwa Islam melarang perbuatan memutus keturunan atau memandulkan, termasuk vasektomi. Islam bahkan menganjurkan umatnya untuk menikah dan mendapatkan keturunan. Nabi saw. bersabda: “Menikahlah kalian dengan wanita penyayang dan subur (berpotensi melahirkan anak yang banyak). Sungguh aku akan membanggakan diri (dengan banyaknya jumlah kalian) di hadapan para nabi pada Hari Kiamat “(HR Ahmad).
Islam melarang pasangan suami-istri yang bersepakat untuk tidak memiliki anak, baik dengan vasektomi atau tubektomi karena kedua cara itu merusak kemampuan reproduksi manusia. Imam Al-Imad bin Yunus pernah ditanya tentang pasangan suami-istri yang merdeka (bukan budak), apakah boleh mengambil tindakan medis atau berobat untuk tidak hamil setelah suci haid. Beliau menjawab, ”Tidak boleh.”
Syariah Islam hanya mengizinkan pasangan suami istri untuk melakukan pengendalian atau pengaturan kelahiran (tanzhîm an-nasl) dengan tujuan agar ibu mendapatkan waktu pemulihan yang cukup pasca melahirkan. Dengan perencanaan kelahiran, seorang ibu juga dapat memberikan pemeliharaan dan perhatian yang cukup untuk anak-anak mereka. Ibu dan anak juga mendapatkan asupan gizi yang cukup dengan pola kelahiran yang direncanakan dengan baik.
Islam membolehkan para suami melakukan ’azl (senggama terputus) saat berhubungan badan dengan istrinya. Dengan ’azl, seorang istri bisa menghindari kehamilan karena suaminya mengeluarkan sperma di luar vaginanya.
Muslim wajib meyakini bahwa setiap makhluk bernyawa di muka bumi ini telah mendapatkan jaminan rezeki Allah SWT. Firman-Nya: “Tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah Yang memberi rezekinya” (QS Hud : 6).
Maka dari itu, sudah saatnya kita mengubur ideologi batil Kapitalisme sekuler tersebut. Menggantinya dengan ideologi yang sahih yaitu ideologi Islam. Islamlah satu-satunya ideologi yang haq dan paripurna. Islam adalah sistem kehidupan yang memberikan solusi terbaik untuk umat manusia. Penerapan Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam seluruh aspek kehidupan pasti akan mendatangkan berkah dan ridha Allah SWT.
WalLâhu a’lam bisshawab.
