OPINI/Artikel

Ada Apa Dibalik Kunjungan Macron ke Indonesia?

adminsigiku.com
×

Ada Apa Dibalik Kunjungan Macron ke Indonesia?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Sumiati

Beberapa waktu lalu Presiden Prancis Emmanuel Macron berkunjung ke negara di Asia tenggara termasuk ke Indonesia pada tanggal 27-29 Mei 2025. Banyak pihak yang beranggapan kunjungan Macron ke Indonesia akan menjadi angin segar untuk beberapa problem yang sedang dihadapi dunia pada saat ini sebagai akibat dari perang tarif yang dilancarkan oleh Amerika dan China. Dilansir dari beritasatu.com (Jum’at, 31/05/2025).

Kedatangan kepala negara Prancis tersebut disambut hangat dan meriah. Kunjungan Macron ini disambut oleh menteri pertahanan, menteri luar negeri dengan beberapa penandatanganan tentang pengembangan alat utama persenjataan alutsista seperti jet tempur Rafale, kapal selam, dan lain sebagainya. Beberapa perjanjian yang dilakukan Indonesia dengan Prancis tersebut menempatkan Indonesia sebagai konsumen produk-produk Prancis. Kunjungan Macron ini memberikan harapan yang terlalu tinggi padahal Prancis sendiri adalah korban dari perang tarif yang dilakukan oleh Trump.

Prancis selalu mencari kesempatan untuk menampilkan dirinya sebagai pihak yang akan menjadi pahlawan untuk beberapa kasus yang terjadi dibelahan dunia. Kita lihat saja sejak perang teluk kemudian invasi Amerika ke Irak. Kemudian apa yang dilakukan Amerika di Afghanistan selalu ada Prancis yang mencoba untuk mengambil kesempatan memainkan posisi politiknya di mata dunia internasional. Demikian pula pada perang Ukraina, pada genosida yang terjadi di Gaza seolah-olah Prancis juga ingin menaikkan simpati dunia dan berada di pihak yang berbeda dengan Amerika.

Kalau negara-negara di dunia bisa melihat bagaimana dukungan Amerika terhadap Israel, maka Prancis mengatakan bahwa Israel perlu mendapatkan sanksi karena nyata-nyata melakukan genosida. Cara seperti ini dilakukan Prancis agar menaikkan posisi politiknya di mata dunia internasional. Tapi kenyataannya Prancis sendiri belum memiliki kekuatan yang cukup memadai untuk memimpin negara-negara di dunia.

Kalau saja negeri-negeri di Asia Tenggara termasuk Indonesia berharap kalau tuntutannya, aspirasinya terhadap berbagai problem yang ada di dunia hari ini bisa diakomodir oleh Prancis, maka sesungguhnya ini tidak akan terjadi, karena Prancis sendiri belum memiliki kekuatan untuk berpengaruh secara nyata menggantikan Amerika atau menandingi kekuatan ekonomi raksasa di China.

Berbicara tentang Prancis, Prancis adalah sebuah negara di Eropa yang islamophobianya luar biasa. Prancis senantiasa berlaku hipokrit, berstandar ganda, bahkan mungkin kita tidak bisa temukan yang namanya kebebasan bagi muslimah di Prancis. Hukuman yang sangat tegas pun ditunjukkan kepada mereka-mereka yang menampakkan identitas keagamaan. Di sini kaum muslim tidak boleh lupa akan negara-negara yang membuat kebijakan yang memusuhi Islam dan umatnya. Beberapa contoh kasus yang memperlihatkan kebencian Prancis terhadap Islam yaitu pelarangan hijab, dan kartun yang menghina nabi Muhammad saw.

Apa yang dilakukan Perancis sesungguhnya memiliki motif ideologis yang dikendalikan oleh ideologi kapitalismenya. Maka kita bisa melihat Prancis adalah negara yang terus mengemban ideologi kapitalisme, yang terus mengagung-agungkan sekularisme. Prancis juga adalah negara yang tidak memiliki ketulusan terkait pembelaan dan perhatian terhadap umat Islam. Kebencian terhadap Islam dan kaum muslim jelas terlihat.

Pemimpin negeri muslim seharusnya menunjukkan ketegasan dalam bersikap dan pembelaan atas kemuliaan agama, terlebih negara yang jumlah mayoritas penduduknya umat Islam. Namun, dalam sistem sekuler kapitalisme dimana hubungan negara dilihat berdasarkan pada manfaat.

Jadi, negara ini yang mayoritas penduduknya beragama Islam seharusnya jangan pernah berharap dan bekerjasama dengan negara yang jelas-jelas membenci Islam dan kaum muslimin. Allah SWT telah memberikan panduan kepada kita agar jangan pernah berharap kepada orang kafir. Sebagaimana firman-Nya, yang artinya;

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti.” (TQS. Ali Imran ayat 118).

Allah SWT disini jelas memerintahkan kepada umat Islam untuk tidak berharap terhadap orang yang memusuhi Islam. Apalagi jika banyak kebijakan yang menyengsarakan umat Islam. Dalam Islam, negara-negara di dunia dibagi menjadi dua, yaitu darul Islam dan darul kufur. Islam juga telah menentukan tuntunan bersikap terhadap negara kafir sesuai posisi negara tersebut terhadap Daulah Islam. Tuntunan ini seharusnya dijadikan pedoman terutama oleh para penguasa negeri-negeri muslim.

Umat Islam seharusnya memiliki negara yang kuat dan berpengaruh dalam konstelasi hubungan negara-negara di dunia sebagaimana pernah diraih oleh Daulah Islam. Wallahu’alam bishshawab