Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) pada hari Senin, 4 Agustus 2025 beraudiensi dengan Kadisdik Jabar, Dr. H. Purwanto, M.Pd. di ruang kerjanya. Sengaja tulisan ini dibuat agar terbaca para pendidik, khususnya entitas kepala sekolah.
Kesan pertama ketika pengurus DPP AKSI datang di ruang kerjanya, sambutan Kadisdik ramah dan antusias. Para pengurus DPP AKSI menyampaikan apa yang akan menjadi agenda di tahun ini. Kadisdik Jabar menyimak dengan penuh perhatian.
Hal yang menarik dari audiensi AKSI dan Kadisdik Jabar, Dr. H. Purwanto, M.Pd., dan DPP AKSI yang dipimpin Dr. H. Asep Tapip Yani, M.Pd. adalah apa yang disampaikannya. Sebuah penguatan pada entitas ASN (kepala sekolah) dan organisasi AKSI. Berikut beberapa hal yang sempat saya catat.
Pertama, Beliau mengatakan bahwa entitas kepala sekolah dilapangan berperan sebagai “wakil gubernur”. Apa maksudnya? Setiap kepala sekolah di Jawa Barat mewakili gubernur (KDM) dalam menterjemahkan, mengartikulasi dan mengimplementasikan apa yang diinginkan gubernur dari aspirasi dan harapan masyarakat.
Apa yang diinginkan Gubernur Jawa Barat untuk kebaikan rakyat Jawa Barat tidak akan ada manfaatnya bila entitas kepala sekolah tidak mengerti dan memahami apa yang diinginkan Sang Gubernur. Kepala sekolah adalah wakil gubernur di ruang mikro. Artinya KDM hadir di sekolah setiap hari yang diwakili para kepala sekolah.
Kedua, Beliau mengatakan setiap kepala sekolah jangan takut berkreasi dan bergerak untuk kebaikan organisasi/sekolah. Namun jangan lupa fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi dalam merespon dinamika tantangan kontekstual.
Hal yang harus menjadi catatan adalah lakukan kreatifitas yang bermanfaat dan berkelanjutan. Semua hal yang bermanfaat menurutnya akan hidup di semua dimensi dan dinamika kemudian. Terutama nilai nilai universal yang bisa menjangkau semua zaman.
Ketiga, Beliau mengatakan betapa pentingnya dunia layanan pendidikan bertransformasi berbasis kesadaran. Mulai dari kesadaran diri, kesadaran kolektif, kesadaran organisasi dan berdampak meluas ke berbagai dimensi.
Asbab peningkatan kompetensi dan kapasitas kepala sekolah yang berbasis kesadaran bersama, dunia sekolah, dunia masyarakat akan terdampak. Dampak ini lah yang diinginkan oleh masayarakat akan keberadan sebuah organisasi.
Beliau mengatakan “Buat apa ada organisasi dan sering berkumpul bila tidak ada dampak atau manfaatnya”. Fungsionalitas, kontribusi dan dampak sebuah organisasi pada anggota dan masyarakat adalah utama.
Keempat, Beliau mengatakan “Sebuah organisasi yang lahir dari proses bottom up jauh lebih langgeng dari organisasi yang top down”. Mengapa demikian? Karena yang lahir dari kebutuhan, idealitas dan kebatinan anggota beda dengan yang lahir dari perintah atau intruksi atasan. AKSI lahir dari bottom up dan tuntutan profesi.
Beliau berharap, AKSI tetaplah dalam jalurnya sebagai organisasi perjuangan, yang tidak tergantung pada dukungan atau bantuan dana pihak lain (terutama pemerintah) dalam berkegiatan. Teruslah ber_AKSI berbasis kesadaran diri yang mendorong kesadaran kolektif organisasi dan masyarakat dalam mewujudkan dan mengimplementasikan pendidikan yang bermutu.
Kelima, Beliau berharap semua organisasi terutama yang bergerak dalam layanan pendidikan di Jawa Barat, sejatinya bekerja dengan baik dan berprestasi. Bila demikian, identik “seirama” dengan pemerintah Jawa Barat.
Demikian simpulan penulis dari apa yang disampaikan Kadisdik Jawa Barat, Dr. H. Purwanto, M.Pd. kepada entitas kepala sekolah yang diwakili DPP AKSI. Jabar Istimewa diantaranya lahir dari sejumlah pribadi istimewa yang penuh kesadaran, dedikatif dan bermanfaat.
