OPINI/Artikel

Bukan Kemerdekaan Ritual

adminsigiku.com
×

Bukan Kemerdekaan Ritual

Sebarkan artikel ini

OLeh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Tema untuk peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI Tahun 2025 adalah “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Tema ini sangatlah substantif tentunya. Namun untuk mewujudkannya dibutuhkan semangat bersama, kerja nyata bersama dan kepemimpinan yang mampu mengorkestrasi potensi kebangsaan.

Kebesaran sebuah bangsa dan kemerdekaannya lebih banyak ditentukan oleh pencapaian dan transformasi bangsa, bukan oleh ritualitas dan kesemarakan berbagai giat penyambutan hari kemerdekaan. Peringatan hari kemerdekaan tidak lebih utama dari hari hari merdeka dalam realitas semua bangsa.

Kemerdekaan bangsa sebenarnya ada dalam kemerdekan mindset kolektif sebuah bangsa. Mindset dan mental yang merdeka akan melahirkan kemerdekaan pikir dan tindakan. Tentu saja kemerdekaan pikir dan tindakan yang tak lepas dari norma dan etika kebangsaan. Hanya Allah, Tuhan yang maha merdeka. Selain Tuhan, semuanya merdeka dalam kuasa_Nya.

Kembali pada esensi kemerdekaan sebagai manusia dan warga negara, adalah merdeka lahir batin. Merdeka lahir batin hanya lahir batin pribadi pribadi merdeka seutuhnya. Merdeka seutuhnya terkait dengan kedaulatan, kesejahteraan dan kemajuan, demikian versi tema dan spirit hari kemerdekaan ke 80 tahun 2025.

Pastikan setiap pribadi, setiap entitas dan masyarakat berdaulat. Kedaulatan ada di tangan rakyat dan semua orang adalah rakyat. Pastikan para pemimpin bahwa semua rakyat bisa menjadi bagian dari kesejahteraan bersama, bersama dalam kesejahteraan. Pastikan kemajuan menjadi bagian dari kehidupan kebangsaan kita dalam berbagai bidang.

Berdaulat, sejahtera dan maju adalah tiga kata yang harus menjadi realitas, bukan hanya jargon dalam ritualitas hari kemerdekaan. Wacana, omon omon, jargon dan tema tidak lebih utama dari realitas kemerdekaan masyarakat. Kemerdekaan masyarakat yang semakin meningkat dan melahirkan kedaulatan, kesejahteraan dan kemajuan.

Ada ungkapan “Ekor mengikuti kepala”. Ada ungkapan “Tidak ada prajurit yang salah”. Ada ungkapan ”Rakyat mengikuti rajanya”. Ada ungkapan “Air mengalir mengikuti kelok dan ngarai”. Ada ungkapan “Gerak makmum mengikuti imam”. Dari sejumlah kata kata dan ungkapan ini menjelaskan bahwa realitas masyarakat akan tersambung dengan realitas sistem dan kepemimpinan.

Betapa pentingnya hadir pemimpin yang mampu menjadi teladan dan mampu menegakan sistem dengan penuh kekuatan. Semoga tidak ada lagi kisah kisruh semisal “Tragedi Pati”. Rakyat dan pemimpin tak seirama akan bersisiko pada jalannya pemerintahan dan nasib rakyat yang diperintah. Belajar dari Pati, pastikan semua pemimpin dan rakyat seirama kolaboratif dalam fokus yang sama, berdaulat, sejahtera dan berkemajuan.

Mari kita tinggal dan tanggalkan budaya ritual yang berlebihan, masuk pada budaya karya nyata. Karya nyata yang menguatkan kedaulatan, kesejahteraan dan kemajuan. Kedaulatan, kesejahteraan dan kemajuan jangan identik dengan entitias tertentu. Sejatinya lebih melekat dan identik pada realitas semua rakyat. Ungkapan “Sama rata, sama rasa” harus dipahmi dalam dimensi keadilan bukan hanya ideologi.

Setidaknya Kang Dedi Mulyadi (KDM) bisa menjadi contoh pemimpin yang melekat pada rakyat. Ia berusaha menciptalahirkan kedaulatan, kesejahteraan dan kemajuan pada rakyatnya. Pemimpin nyang selesai dengan dirinya akan mampu menyelesaikan masalah rakyat. Pemimpin yang belum selesai dengan dirinya bahkan jadi “budak partai” hanya akan menambah beban rakyat.

Bangsa yang merdeka, berdaulat, sejahtera dan maju, hanya lahir dari rahim kebangsaan yang sehat. Mulai dari para pemimpin dan sistem yang sehat dan sangat kuat. Negeri ini butuh para pemimpin yang berjiwa rakyat, sekuat Malaikat. Pemimpin ritualis dan rakyat ritualis tak terlalu dibutuhkan.

Bangsa yang berdaulat, sejahtera dan maju tidak lahir dari bangsa ritualis, melainkan lahir dari kemerdekaan aktualisasi kolektif bangsanya. Aktualisasi dalam mengekspresikan potensi diri yang berbasis cinta kasih, welas asih, wujud rahman rahim_Nya.