Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Ada ungkapan “Ekor mengikuti kepala”. Ada pula ungkapan “Tidak ada anak yang salah, orang dewasa lah yang salah”. Dua ungkapan ini bila dikaitkan dengan apa yang terjadi pada 630an anak didik SMAN 1 Cimarga, mereka tidak boleh dihakimi dan disalahkan.
Haruskah anak didik SMAN 1 Cimarga dihakimi, ditandai dan dilabeli bahkan ada netizen yang menyerukan HRD perusahaan mencatat jejak digital alumni SMA 1 Cimarga, Lebak, Banten dan menolak mereka dalam perekrutan kerja selama beberapa tahun ke depan.
Siapa pun orang dewasa yang “menghakimi” anak karena mereka telah melakukan kesalahan adalah salah. Menghakimi anak usia sekolah, fase belajar, sangatlah tidak bijak. Hal ini membuat sejumlah anak merasa dihakimi. Ketika penulis ke sekolah SMAN 1 Cimarga, sejumlah anak menanyakan terkait hal ini.
Haruskan anak dihakimi karena mereka melakukan kesalahan ? Hal yang harus dilakukan adalah diberi motivasi, penguatan wawasan dan karakter. Agar apa pun kesalahan yang pernah dibuat bisa menjadi pelajaran. Bukan penghakiman dan stigmatisasi.
Dalam ajaran agama Islam ada pelaku dosa yang sudah membunuh 99 orang mau bertobat menemui seorang kiyai. Sang Kiyai menjelaskan bahwa dosanya terlalu banyak, Tuhan tidak akan mema’afkan. Sang Pembunuh kesal dan kecewa, maka Sang Kiyai pun dibunuh menjadi korban yang ke 100.
Sang Kiyai mati terbunuh karena menutup pintu ma’af, malah menghakimi. Allah, Tuhan yang maha love itu pema’af. Apalagi anak didik yang dianggap salah karena berdemo, mari kita ma’afkan. Mereka hanyalah anak, anak adalah anak, belum dewasa. Netizen boleh sadis pada pejabat, pada anak terlarang.
Ajaran agama Islam menjelaskan bahwa menyelesaikan konflik, berdamai, saling mema’afkan, menutup aib sesama adalah amalan yang lebih baik dari sholat, puasa dan ibadah ke tanah suci. Apalagi mema’afkan anak anak, memberi kesempatan untuk belajar lebih dewasa dan sadar.
Mari para netizen dan publik pada umumnya Jangan Hakimi Anak Didik, mereka adalah kita di masa depan. Mari kita tangkap pesan kauniyah dari Tuhan, kisah 630 anak didik yang demo berkelindan dengan orang orang dewasa disekitarnya. Orangtua, guru, kepala sekolah, komite sekolah, wajib introsfeksi.
Jangan hakimi pemilik masa depan. Ma’afkan dan mari kita bimbing dan beri motivasi. Para nabi pun punya salah, apalagi anak anak. Bukankah kita orang dewasa banyak salah ? Kitalah yang layak dan pantas disalahkan. Apalagi kalau orang dewasa menghakimi anak yang sedang belajar, sangat banalis.











