OPINI/Artikel

Sending Love, Petik Love

adminsigiku.com
×

Sending Love, Petik Love

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Memahami diri, memahami Tuhan dan semesta adalah sangat penting. Plus memahami energi, frekuensi dan vibrasi, sangatlah penting. Meniti ke dalam diri, berdzikir kepada_Nya, menebarkan cinta pada sesama dan semesta adalah sejatinya hidup.

Manusia lahir dan tercipta dari energi cinta_Nya. Karena manusia lahir dan tercipta dari energi cinta, maka tidak boleh ada selain energi cinta dalam diri kita. Menebarkan cinta, kabar baik dan damai adalah utama.

Dalam bahasa Teh Feby seorang motivator spiritual mengatakan betapa pentingnya kita setiap saat melakukan “sending love”. Menebarkan vibrasi cinta pada sesama, pohon, binatang dengan tatapan penuh syukur.

Melihat dan memandang apa pun dengan “siraman” sending love. Bisa jadi bila kita selalu membawa vibrasi love, welas asih, cinta kasih, secara tak sadar sifat Tuhan menguasai diri kita. Bila sifat Tuhan menguasai diri kita maka kuasa Tuhan akan menjadi bagian dari diri kita.

Bisa kita coba sending love, mendoakan dan membayangkan kebaikan bagi orang yang kita cintai. Kemudian kepada orang netral pada kehidupan kita. Selanjutnya sending love ditujukan pada orang yang pernah menyakiti dan mengkhianati kita.

Ketika kita memandang semua manusia “sama rata” layak mendapatkan sending love dari kita, tanpa membedakan karena sikapnya pada kita, akan sangat baik. Allah, Tuhan yang maha love, menciptakan semuanya dan mencintai semuanya.

Udara, matahari, tanah dan air tidak pernah memilih milih dan membeda bedakan apa pun. “Mereka” memberikan manfaat kepada semua dan tanpa harap balas, memberi tak berharap kembali. Kita? Bisakah kita selalu sending love pada semua dan tak berharap kembali?

Begitu banyak orang beragama dan terlihat sangat agamis, tapi sulit menghindar dari ego dan overthinking. Padahal semua agama hanyalah “alat” untuk menebarkan vibrasi cinta yang sumber utamanya adalah cahaya cinta Dia.

Boleh kita coba lupakan galau, gabut dan overtihinking, kuatkan vibrasi cinta dalam diri. Perbanyak syukur atas apa yang ada bahkan apa yang belum pun disyukuri. Bila dalam diri telah tumbuh vibrasi cinta maka kesehatan dan kebahagiaan akan membaik.

Kebanyakan kita berkutat dalam tafsir dialektika dogma, doktrinika dan logika mistika. Padahal tidak ada yang lebih utama dari kesadaran dan nafas cinta yang berseirama dengan_Nya. Pendaki yang sampai ke puncak gunung bisa melihat pemandangan jauh lebih luas. Cinta adalah keluasan kuasa_Nya.