Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktsisi Pendidikan)
Kalau pembaca mencarai diksi geoteologis dalam AI atau google, tidak akan ada, atau belum ada. Ini murni dari penulis. Geo bisa diartikan bumi, tanah atau wilayah. Teologi bisa diartikan ilmu tentang Tuhan atau ketuhanan manusia dan lingkungannya.
Beda dengan geopolitik, sangat populer. Geopolitik dapat didefinisikan sebagai wilayah politik dan geografis suatu negara. Geopolitik berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu geo yang berarti bumi dan politik (dari kata polis) yang berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri atau negara.
Perang antara Amerika Israel versus Iran adalah masalah geopolitik. Masalah geopolitik sudah ada sejak zaman pra aksara. Bahkan secara tidak langsung hewan pun punya “geopolitik”. Gogog atau kucing suka menandai wilayah geopolitiknya dengan “kencing politik”.
Basic instinct hewani dalam menandai wilayahnya mirip mirip dengan entitas manusia. Semua negara punya batas batas wilayah dan rasa kepemilikannya sendiri. Basic instinct bangsa Yahudi, bangsa Palestina, Iran dan Amerika, sangat fokus dan prioritas pada geopolitiknya masing masing. Plus modus ekonomi.
Semua peperangan identik dengan geopolitik dan modus ekonomi. Dalam diri manusia ada sisi “hewanik” yang bisa muncul dalam bentuk pertengkaran, peperangan dan saling bunuh. Sejarah membuktikan entitas manusia jauh lebih sadis dibanding binatang.
Dunia ini faktanya “dikendalikan” oleh egoisme geopolitik. Padahal secara teologis, dunia ini bukan milik manusia, milik Tuhan. Semua manusia tidak berhak atas tanah dan bumi yang tidak mereka ciptakan. Hanya boleh memanfaatkan dan saling mencintai sesama manusia.
Bila kehidupan global spiritnya adalah geoteologis, tentu akan lebih baik. Masalahnya adalah setiap bangsa punya kepercayaan sendiri, merasa paling hak, merasa punya Tuhan sendiri. Padahal dunia ini diciptakan oleh Tuhan yang sama. Asbab pemikiran manusia Tuhan pun menjadi berbeda, padahal Tuhan hanya satu. Makin dibedakan dan dipertentangkan dengan geopolitik.
Bila penghuni bumi ini beragama dengan benar, memahami substansi ajaran agama dengan benar, memahami kehendak Tuhan, maka tidak ada peperangan. Peperangan lahir diantaranya karena geopolitik. Politik, kekuasaan dan modus ekonomi asbab utama peperangan.
Bila penghuni bumi menyadari geoteologis maka tidak akan ada peperangan, persaudaraan yang akan lebih kuat. Bangsa Israel adalah turunan nabi nabi, bangsa Iran adalah turunan nabi nabi juga. Bangsa Amerika juga sama terkoneksi dengan Adam AS. Semua berasal dari Tuhan yang sama dan nabi yang sama.
Dalam sejarah keluarga Adam AS ada sosok ekoteologis bernama Habil, sosok geopolitik bernama Qabil. Pembunuhan Habil oleh saudaranya, Qabil, diabadikan dalam Al-Qur’an (Surah Al-Ma’idah: 27-31). Pembunuhan, peperangan dan pertikaian bukan ajaran agama, walau entitas mereka beragama atau teriak teriak Tuhan.
Iran, Amerika – Israel adalah tiga negara dengan tiga agama. Islam, Kristen dan Yahudi, namun ketiganya menjadi berperang karena ajaran agamanya “dikendalikan” oleh geopolitik, politik dan kekuasaan menjadi asbab pertikaian dan konflik umat manusia. Sejak Qabil membunuh Habil, itulah miniatur ke hidupan umat manusia.
Dalam ajaran agama Islam ada ungkapan bahwa mendamaikan yang berkonflik adalah ibadah yang nilainya di atas sholat, puasa dan haji. Nilai ini sebenarnya ada dalam semua ajaran agama. Masalahnya semua penganut agama telah meletakan urusan dunia, politik dan kekuasaan di atas agama. Bahkan agama hanya jadi alat letup, peledak emosi kolektif. Waspadalah !

