Pewarta : Red
Jakarta – Dominasi sektor informal dalam struktur ketenagakerjaan Indonesia kian mengkhawatirkan. Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, secara tegas meminta generasi muda tidak lagi pasif menunggu pekerjaan, melainkan mulai menciptakan peluang kerja sendiri.
Saat ini, lebih dari 155 juta angkatan kerja masih terserap di sektor informal, sementara jutaan lainnya belum mendapatkan pekerjaan. Situasi ini mencerminkan lemahnya daya serap industri sekaligus ketidaksiapan sumber daya manusia menghadapi kebutuhan pasar kerja modern.
“Pemuda jangan hanya jadi angka statistik. Harus berani bertindak dan menciptakan dampak nyata,” tegas Afriansyah dalam konferensi “UNWRAP : From Potential to Impact Conference 2026” di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Ia menyoroti jurang lebar antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri yang hingga kini belum terjembatani secara serius. Akibatnya, lulusan terus bertambah, tetapi kompetensi yang dibutuhkan pasar masih minim.
Afriansyah menekankan, pola pikir generasi muda harus segera berubah: dari pencari kerja menjadi pencipta kerja. Inovasi, kewirausahaan, dan pemanfaatan teknologi dinilai sebagai kunci untuk keluar dari jebakan sektor informal yang stagnan.
Pemerintah, lanjutnya, tengah mendorong transformasi melalui empat strategi utama di 2026, penguatan pelatihan vokasi (skilling dan reskilling), pengembangan Talent and Innovation Hub (TIH), perluasan akses pelatihan inklusif termasuk bagi penyandang disabilitas, serta peningkatan produktivitas melalui Labor Productivity Clinics.
Selain itu, pendekatan inkubasi bisnis juga diperkuat untuk melahirkan wirausaha baru, khususnya di sektor digital, ekonomi kreatif, dan industri hijau.
“Kalau tidak bergerak sekarang, kita akan terus tertinggal. Ini saatnya pemuda ambil peran sebagai motor ekonomi, bukan sekadar penonton,” tandasnya.













