Pewarta : Red
Jakarta – Ketua panitia pelaksana Persija Jakarta, Ferry Indrasjarief, melontarkan kekecewaan mendalam setelah laga kandang kontra Persib Bandung kembali gagal digelar di Jakarta. Pertandingan pekan ke-32 BRI Super League itu resmi dipindahkan ke Stadion Segiri, Samarinda, akibat tidak keluarnya izin keramaian dari pihak kepolisian.
“Kecewa sekali. Kami sudah berupaya menunjukkan bahwa suporter kami semakin tertib, bahkan sepanjang musim ini nyaris tanpa insiden berarti. Namun tetap saja kekhawatiran itu ada,” ujar Ferry di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026).
Keputusan pemindahan venue diambil operator liga I League setelah mempertimbangkan faktor keamanan, khususnya pasca peringatan Hari Buruh Internasional yang dinilai masih menyisakan potensi kerawanan.
Ferry mengungkapkan, pihaknya sempat menyiapkan sejumlah alternatif lokasi di Pulau Jawa, termasuk Surabaya dan Jepara. Bahkan koordinasi dengan panpel Persebaya Surabaya serta dukungan dari kelompok suporter Bonek Mania sudah diperoleh. Namun opsi tersebut batal setelah muncul ketentuan pertandingan harus digelar tanpa penonton jika tetap di Pulau Jawa.
Upaya lain juga sempat mengarah ke Bali, namun penggunaan Stadion Kapten I Wayan Dipta terkendala jadwal pertandingan Bali United. Dari situ, opsi Samarinda menguat setelah mempertimbangkan ketersediaan stadion milik Borneo FC.
Di balik keputusan tersebut, Ferry menegaskan kerugian tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga emosional bagi suporter. Selama 7 (tujuh) tahun terakhir, Jakmania belum kembali merasakan atmosfer laga klasik Persija kontra Persib di Jakarta, terakhir terjadi pada 2019 di Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan skor imbang 1-1.
“Ini bukan sekadar soal pertandingan, tapi juga soal hak suporter yang kembali terabaikan. Kami dirugikan secara materi dan moral,” tegasnya.
Ferry juga menyoroti pentingnya penataan ulang jadwal pertandingan berisiko tinggi agar tidak beririsan dengan momentum rawan keamanan. Menurutnya, laga sebesar Persija vs Persib seharusnya ditempatkan pada waktu yang lebih kondusif.
Secara kompetitif, situasi ini turut memanaskan persaingan papan atas. Persija saat ini berada di posisi ketiga dengan 65 poin, tertinggal tujuh angka dari Persib di puncak klasemen. Dengan tiga laga tersisa, peluang juara masih terbuka, namun dengan syarat berat, wajib menang atas Persib dan berharap pesaing lain, termasuk Borneo FC, terpeleset di laga tersisa.
Pertanyaannya kini bukan hanya soal siapa yang menang di lapangan, tetapi juga kapan rivalitas terbesar sepak bola Indonesia ini bisa kembali digelar secara layak di ibu kota tanpa bayang-bayang pembatasan.













