Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Adalah seorang dokter yang cukup terkenal karena analisis dan pikirannya dianggap anti mainstream. Bahkan sejumlah orang menyebutnya atheis. Padahal Ia adalah cucu ulama dan lahir dari keluarga beragama Islam. Ia adalah Dr. dr. Ryu Hasan, dokter spesialis bedah saraf terkemuka di Indonesia yang juga dikenal luas sebagai pakar neurosains, pemikir publik, dan influencer sains.
Menarik ketika ditanya perbedaan karakter orang Jepang dan orang Indonesia. Di Jepang menurutnya orang yang menghargai spiritualitas personal. Urusan spiritualitas, kepercayaan, agama adalah urusan pribadi, sangat dihargai. Ryu Hasan mengatakan di Jepang tidak ada ormas atau Ikatan Penyembah Jembatan atau Paguyuban Penyembah Toilet.
Orang Jepang tidak sibuk mengurus kepercayaan orang lain. Tidak terobsesi menularkan kepercayaan yang dianut pada orang lain. Ini berimplikasi tidak adanya friksi dan kegaduhan sosial tentang dunia ibadah dan kepercayaan. Orang mau beribadah caranya bagaimana, dimana, tergantung kepentingan masing masing, tidak mengganggu dan saling mencurigai.
Di Jepang baru akan ribut dan heboh menurut Ryu Hasan saat orang Jepang membuang sampah sembarangan, tidak antri. Secara tidak langsung Ryu Hasan menjelaskan bahwa di Jepang tidak ada kisah penistaan agama atau konflik agama, yang ada adalah penistaan lingkungan dan menjaga hak antri orang lain.
Seorang tokoh yang sering bolak balik ke Jepang, mengatakan, “Orang Jepang tinggal syahadat, masuk Surga”. Mengapa Ia mengatakan demikian ? Karena karakter orang Jepang jauh lebih baik dari karakter bangsa kita. Disiplinitas, kerja keras, menghargai waktu, sopan, dan mengutamakan harmoni kelompok di atas kepentingan individu, memegang teguh tradisi, menjunjung tinggi kejujuran, serta menerapkan prinsip perbaikan diri terus-menerus (Kaizen) untuk memberikan kualitas terbaik.
Mereka berkarakter tapi tidak syahadat, kita bersyahadat tapi tidak berkarakter. Tidak disiplin, kurang menghargai waktu, tak bisa antri, buang sampah sembarangan, heboh pada kepercayaan orang lain dan terobsesi menularkan kepercayaan pada orang lain sekali pun mereka sudah punya kepercayaan. Demikian kelakar seorang tokoh yang bekerja di Jepang.
Apa yang disampaikan Ryu Hasan semoga menjadi auto kritik bagi kita. Bahkan Ia mengatakan bila sains menemukan suatu hal dan bertentangan dengan keyakinan kita maka itu adalah “Sial mu aja” dan keyakinan kita yang “lucu”. Lontaran kritik tajam Ryu Hasan pada realitas kehidupan kita sangat mudah kita temukan. Keyakinan yang lucu dan sial di era kemajuan, sangat geli kita dengar.











