JURNAL MATARUMA 2026 Ajak Masyarakat “Belajar dari Warisan, Berkarya Untuk Peradaban

0
31

Pewarta : Anis

Sebuah Ajakan Persaudaraan dari Penulis Rusdy Latuconsina untuk Membangun Masa Depan Bersama

Di tengah derasnya perubahan zaman, JURNAL MENUJU MATARUMA 2026 hadir sebagai pengingat. Lewat edisi MATARUMA tanggal 12 Juli 2026, jurnal ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menoleh ke belakang, belajar dari warisan, dan melangkah bersama membangun peradaban.

Tulisan yang digagas oleh Rusdy Latuconsina ini mengangkat semboyan kuat:l, “Belajar dari Warisan, Berkarya untuk Peradaban.
Bukan sekadar slogan, kalimat itu menjadi arah berpikir dan komitmen moral untuk menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Dalam tulisannya, Rusdy Latuconsina mengingatkan bahwa warisan tidak selalu berbentuk rumah adat, naskah kuno, atau jalur rempah.

Warisan dapat berupa ilmu yang diajarkan seorang guru dengan penuh kesabaran. Warisan dapat berupa doa seorang ibu, nilai kejujuran dari seorang ayah, petuah para tetua adat, hingga semangat gotong royong yang hidup berabad-abad, tulisnya.

Bahasa daerah, tarian, lagu tradisional, dan kearifan menjaga alam juga disebut sebagai kekayaan yang tak ternilai. Namun semua itu hanya akan hidup jika ada generasi yang mau mempelajarinya.

Di sinilah peran pendidikan ditekankan. Mengutip Ki Hadjar Dewantara, Rusdy menegaskan pendidikan adalah menuntun kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan harus berakar pada nilai dan budaya masyarakat.

Berkarya : Dari Hal Kecil untuk Peradaban Besar

Bagian kedua dari semboyan itu adalah ajakan untuk berkarya. Menurut Rusdy, ilmu yang hanya disimpan akan berhenti. Ilmu yang dibagikan akan menjadi cahaya.

Seorang guru yang mengajar dengan tulus sedang membangun peradaban. Seorang petani yang menjaga tanah sedang membangun peradaban. Seorang pemuda yang menciptakan teknologi untuk membantu masyarakat juga sedang membangun peradaban.

Pesan ini meruntuhkan anggapan bahwa membangun peradaban hanya tugas tokoh besar. Justru, peradaban dibangun setiap hari oleh orang-orang biasa yang bekerja dengan ikhlas.

Jembatan Antara Tradisi dan Inovasi
Rusdy juga meluruskan salah kaprah. Berbicara budaya bukan berarti hidup di masa lalu. Budaya adalah fondasi.

Teknologi boleh berubah. Cara bekerja boleh berubah. Namun nilai kejujuran, kerja keras, persaudaraan, kepedulian, dan semangat belajar tidak pernah kehilangan relevansinya.

MATARUMA, menurutnya, ingin menjadi jembatan. Belajar dari sejarah tanpa terjebak di dalamnya. Menghormati tradisi tetapi terbuka pada inovasi. Menjaga identitas tetapi siap berkolaborasi dengan dunia.

Yang paling mengena dari tulisan ini adalah ajakan persaudaraan. Rusdy Latuconsina menyebut membangun peradaban tidak bisa sendiri.

Ia membutuhkan guru, mahasiswa, peneliti, budayawan, tokoh adat, pelaku usaha, seniman, aparatur pemerintah, pemuda, dan seluruh masyarakat. Semua memiliki tempat. Semua memiliki peran.

MATARUMA ingin menjadi “rumah” yang mempertemukan semua itu. Rumah yang percaya setiap orang bisa belajar, bisa berkarya, dan bisa meninggalkan warisan terbaik.
Warisan memberi kita akar. Karya memberi kita arah. Peradaban lahir ketika keduanya berjalan bersama.

Lewat tulisan ini, Rusdy Latuconsina tidak hanya menulis. Ia mengulurkan tangan. Mengajak kita duduk bersama, saling mendengar, dan saling menguatkan. Karena pada akhirnya, seperti yang ia tulis: peradaban bukan diwariskan oleh waktu. Peradaban diwariskan oleh manusia yang memilih untuk belajar, berkarya, dan berbagi.