Pewarta : Red
Yogyakarta – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memastikan pembangunan gedung baru di Jalan Kenari, Kota Yogyakarta, berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan selesai pada akhir 2026.
Sekretaris DPRD DIY, Yudi Ismono, mengatakan hingga pekan ke-69 pelaksanaan proyek, progres fisik pembangunan telah mencapai 81,7 persen, sehingga pekerjaan masih berada pada jalur yang sesuai dengan target kontrak.
“Sampai minggu ini kita masuk ke minggu ke-69, progres fisik sudah berada di angka 81,7 persen. Artinya proyek ini berjalan on the track sesuai target yang ditetapkan dalam kontrak,” ujar Yudi di Yogyakarta, Selasa (14/7/2026).
Berdasarkan dokumen kontrak, pembangunan gedung baru DPRD DIY dijadwalkan selesai pada 6 Desember 2026, yang sekaligus menjadi waktu serah terima bangunan. Hingga saat ini, proses konstruksi disebut berlangsung tanpa kendala berarti.
Setelah seluruh tahapan pemeriksaan akhir dan kelengkapan gedung rampung, DPRD DIY akan memindahkan seluruh aktivitas legislatif dari kawasan Malioboro ke Jalan Kenari pada Januari hingga Februari 2027.
Yudi menjelaskan, gedung DPRD DIY yang lama di kawasan Malioboro merupakan bangunan cagar budaya yang akan tetap dipertahankan. Ke depan, kawasan tersebut akan diintegrasikan dengan Teras Malioboro sisi utara dan direncanakan menjadi ruang publik bernilai sejarah, seperti museum atau galeri.
“Gedung DPRD yang lama merupakan bagian dari cagar budaya dan menyatu dengan Teras Malioboro sisi utara. Nantinya kawasan tersebut akan digabung menjadi satu objek, apakah museum atau galeri,” katanya.
Menurut Yudi, relokasi gedung DPRD tidak hanya bertujuan melestarikan aset sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga Sumbu Filosofi Yogyakarta, kawasan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO. Dengan perpindahan tersebut, kawasan Malioboro diharapkan semakin menonjolkan karakter budaya sekaligus menjadi ruang publik yang lebih tertata dan nyaman.
Selain aspek pelestarian budaya, pemindahan kantor DPRD juga diyakini akan memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi di kawasan Malioboro. Selama ini, gedung DPRD yang berada di pusat kota kerap menjadi lokasi unjuk rasa yang mengakibatkan terganggunya aktivitas perdagangan.
“Setiap ada konsentrasi massa, dampaknya tentu terasa pada perekonomian Malioboro. Kalau hanya sebentar mungkin tidak masalah, tetapi kalau berlangsung berjam-jam hingga malam atau dini hari, tentu berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Gedung baru DPRD DIY dibangun dengan nilai kontrak akhir sebesar Rp307 miliar. Bangunan tersebut mengusung konsep arsitektur karakter mungguh, yakni perpaduan desain modern dengan sentuhan arsitektur khas Yogyakarta serta unsur kolonial, sehingga tetap mencerminkan identitas budaya daerah di tengah perkembangan infrastruktur pemerintahan.

