Kasus Dugaan Keracunan MBG Terulang, Pemkab Garut Hentikan Operasional Dapur dan Perketat Pengawasan

0
5

Pewarta : Agus Lukman

Kabupaten Garut – Pemerintah Kabupaten Garut menghentikan sementara operasional dapur penyedia Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menjadi sumber keracunan puluhan santri Pondok Pesantren Al-Almansuriyah, Kecamatan Cibatu. Langkah itu diambil sembari menunggu hasil penyelidikan dan evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan pangan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin menegaskan, insiden yang kembali terjadi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Selain memastikan seluruh korban mendapatkan pelayanan kesehatan, Pemkab Garut memperketat pengawasan terhadap seluruh dapur penyedia MBG.

“Ini adalah musibah yang terjadi. Kami menyikapinya dengan memberikan pelayanan sebaik – baiknya kepada masyarakat agar mereka segera pulih,” kata Syakur usai menjenguk korban di Puskesmas Cibatu, Jum’at (24/7/2026).

Sebagai tindak lanjut, Pemkab Garut bersama BGN akan mengevaluasi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), kelengkapan perizinan, hingga penerapan standar keamanan pangan di dapur penyedia MBG.

Menurut Syakur, evaluasi tersebut bertujuan memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang.

“BGN juga sedang mengevaluasi terkait SLHS, perizinan, dan lainnya. Kami meminta pengawasan diperketat agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” ujarnya.

Selain penanganan medis, Pemkab Garut bersama Bank BJB dan Baznas menyalurkan bantuan kerohiman sebesar Rp250 ribu kepada setiap korban. Bantuan lanjutan berupa paket sembako juga disiapkan untuk keluarga korban setelah seluruh pasien dinyatakan pulang dari fasilitas kesehatan.

Korban Bertambah, Penyebab Masih Diselidiki

Insiden dugaan keracunan terjadi setelah 50 santri menerima menu MBG pada Rabu (22/7/2026). Beberapa jam kemudian, sebanyak 27 santri mengalami mual, muntah, diare, dan sakit perut hingga harus menjalani perawatan di Puskesmas Cibatu.

Kepala Desa Mekarsari, Asep Sadili, membenarkan kejadian tersebut dan mengatakan seluruh korban langsung mendapatkan penanganan medis.

“Betul, ada sekitar 27 orang dari 50 santri yang mendapatkan jatah MBG mengalami keracunan,” katanya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Nurdin Yana, mengungkapkan jumlah pasien terus bertambah dalam waktu singkat. Tiga pasien pertama datang sekitar pukul 13.00 WIB, kemudian meningkat menjadi 23 orang pada sore hari, hingga akhirnya mencapai 27 pasien pada malam hari.

Pemerintah daerah juga masih mendata empat warga lain yang mengalami gejala serupa. Jika hasil pemeriksaan mengarah pada dugaan yang sama, jumlah korban diperkirakan bertambah menjadi 31 orang.

Salah seorang korban, Widia, mengaku mengalami diare dan muntah beberapa jam setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang adiknya. Ia mengaku tidak menemukan kejanggalan pada makanan yang disantap.

“Saya diare, muntah-muntah dari malam. Saya kira hanya sakit lambung, ternyata teman-teman yang lain juga mengalami hal yang sama,” ujarnya.

Menu MBG yang dikonsumsi saat itu terdiri dari tempe, telur ceplok, dan sayur sop. Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan pihak berwenang.

Peristiwa ini menjadi kasus dugaan keracunan MBG terbaru di Garut dan kembali memunculkan sorotan terhadap sistem pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis. Pemerintah daerah memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan sebelum dapur penyedia kembali dioperasikan.